TRIBUNNEWS.COM - Gebrakan mengejutkan hadir dari tunggal putra Prancis, Christo Popov, yang berhasil mengukir sejarah dengan menjuarai BWF World Tour Finals (WTF) 2025 pada pekan lalu Minggu (21/12/2025).
Torehan Christo Popov jadi sejarah dalam BWF WTF sekaligus bagi kontingen Prancis yang akhirnya punya wakil dengan gelar juara dalam turnamen prestis BWF.
Pasalnya jika menilik delegasi Eropa, Prancis bukanlah satu unggulan untuk bisa bersaing dengan wakil elite yang notabene lahir dari benua Asia.
Jika menilik kiprah wakil Eropa, Denmark yang justru acapkali bisa bersaing dengan utusan-utusan Asia baik di turnamen individu maupun beregu.
Melihat di lima sektor badminton, andalan Denmark sejatinya ada di tunggal putra, ganda putra, dan campuran, yang sampai saat ini cukup menjaga konsistensi dalam bersaing di circle elite.
Selama bertahun-tahun, Denmark selalu memiliki wakil di jajaran pemain elit dunia. Kondisi ini sebenarnya masih bertahan, namun jumlah pemain bintangnya semakin sedikit.
Kepala pelatih tim nasional Denmark, Thomas Stavngaard, mengakui bahwa saat ini mereka tidak memiliki banyak talenta muda hebat yang siap muncul.
"Saya tidak tahu apakah saya merasa optimis. Saya melihat lebih sedikit talenta luar biasa yang muncul sekarang. Saat Viktor Axelsen, Anders Antonsen, dan Jan O. Jorgensen masih junior, kita sudah tahu mereka akan menjadi bintang dunia. Hari ini, sulit untuk melihat siapa yang benar-benar bisa mencapai level itu," ujar Stavngaard dikutip TV2 Sports Denmark.
Baca juga: 5 Monster Gagal Membendung, Christo Popov Teruskan Warisan Axelsen di BWF World Tour Finals 2025
Stavngaard menekankan bahwa Denmark masih memiliki banyak pemain berbakat. Ia mencontohkan bahwa sering kali ada pemain yang tidak disangka-sangka justru berhasil meraih kesuksesan besar.
"Jika dulu kita meramal Anders Skaarup akan menjadi pemain ganda putra dengan medali Kejuaraan Dunia terbanyak, mungkin orang akan menganggap saya tidak waras," jelasnya.
Saat ini, Anders Antonsen yang berada di peringkat tiga dunia tunggal putra menjadi pemain Denmark dengan peringkat tertinggi.
Ganda putra Kim Astrup/Anders Skaarup berada di peringkat sembilan dunia. Sementara itu, Viktor Axelsen merosot ke peringkat 30 dunia karena mengalami cedera panjang.
Tidak Bisa Meniru Prancis
Prancis mulai menunjukkan hasil dari kerja keras mereka dalam membina pemain muda. Thomas Stavngaard memperhatikan cara kerja mereka, namun menurutnya sistem tersebut sulit diterapkan di Denmark.
"Sistem di Prancis sulit dibandingkan dengan Denmark. Mereka memakai model Asia, di mana mereka mengumpulkan dan melatih pemain untuk menjadi spesialis sejak usia sangat dini," papar pelatih Denmark.
"Kami sangat bergantung pada klub-klub untuk mengembangkan pemain. Kami tidak bisa memusatkan semua latihan sejak anak-anak berusia 12 hingga 15 tahun seperti yang dilakukan di Prancis," tambahnya.
Baca tanpa iklan