TRIBUNNEWS.COM - Olimpiade Musim Dingin 2026 menjadi perhelatan olahraga terbesar di awal tahun ini, bakal berlangsung di Milano dan Cortina d’Ampezzo, Italia, pada 6-22 Februari 2026.
Sesuai namanya, Olimpiade Musim Dingin 2026 bakal mempertandingkan cabang olahraga musim dingin, seperti ski, seluncur, hingga hoki es.
Olimpiade Musim Dingin pertama kali dihelat pada 1924 tepatnya di Chamonix, Prancis.
Setelahnya, Olimpiade Musim Dingin diselenggarakan setiap empat tahun sekali dan Milano Cortina 2026 memasuki edisi yang ke-25.
Faktanya, Indonesia tidak pernah ikut serta sepanjang gelaran Olimpiade Musim Dingin. Mengapa demikian?
Alasan yang paling utama adalah berkaitan dengan iklim.
Kita semua tahu bahwa Indonesia beriklim tropis, tentu akan menjadi kesulitan jika atlet Merah Putih harus bertanding di tengah cuaca dingin.
Pun jika harus melakukan pembinaan atlet secara berkelanjutan, langkah paling tepat adalah berlatih di luar negeri yang beriklim dingin.
Apabila langkah tersebut dilakukan jelas membutuhkan biaya yang tidak sedikit.
Baca juga: Milano Cortina 2026: Menyelamatkan Napas Olimpiade dengan Model Multi-Tuan Rumah
Lalu alasan lainnya adalah minimnya sarana dan prasarana.
Beberapa cabang olahraga musim dingin harus didukung dengan adanya fasilitas seperti lintasan es atau arena bersalju. Namun hal itu masih sangat jarang ditemui di Indonesia.
Jadi sampai sejauh ini, Indonesia terlihat lebih memfokuskan pembinaan atlet dari cabang olahraga sesuai dengan kondisi yang ada, mulai dari iklim hingga sarana prasarana.
Buktinya adalah Indonesia aktif mengikuti Olimpiade Musim Panas.
Terakhir, Indonesia unjuk aksi di Olimpiade Paris 2024 dengan raihan dua medali emas dan satu perunggu.
Dua medali emas diraih oleh Veddriq Leonardo (panjat tebing) dan Rizki Juniansyah (angkat besi). Lalu perunggu disumbang Gregoria Mariska Tunjung (badminton).
Baca tanpa iklan