TRIBUNNEWS.COMĀ - Singapore Open 2026 pekan lalu menyisakan drama yang memantik kecaman keras. Cedera lutut parah yang menimpa bintang ganda campuran Malaysia, Toh Ee Wei, di tengah laga perempat final menjadi tamparan keras untuk BWF.
Insiden ini memicu gelombang kemarahan dari Direktur Kepelatihan Ganda Nasional Malaysia, Rexy Mainaky, yang menilai regulasi medis saat ini sangat kaku dan abai terhadap keselamatan atlet.
Ketegangan memuncak di Singapore Indoor Stadium saat Toh Ee Wei, yang berpasangan dengan Chen Tang Jie, mendadak tersungkur menahan sakit pada lutut kirinya ketika berhadapan dengan wakil India, Dhruv Kapila/Tanisha Crasto.
Bukannya mendapatkan penanganan medis yang cepat dan memadai dari tim, Toh Ee Wei justru harus mengalami momen ironis di atas lapangan yang tertangkap jelas oleh kamera penonton.
Meski petugas medis turnamen sempat masuk ke lapangan, penanganan yang diberikan dinilai sangat minim dan jauh dari kata layak.
Akibat batasan regulasi yang kaku, Toh Ee Wei terpaksa membalut lutut kirinya yang cedera seorang diri, dengan dibantu oleh rekan duetnya, Chen Tang Jie.
Dengan sisa-sisa semangat yang ada, pebulu tangkis tangguh ini sempat memaksakan diri untuk melanjutkan pertandingan.
Namun, rasa sakit yang tidak lagi tertahankan, memaksa mereka memutuskan untuk mundur (retired) sebelum akhirnya Toh Ee Wei harus dievakuasi meninggalkan arena menggunakan kursi roda.
Pemeriksaan medis lanjutan kemudian mengonfirmasi kabar buruk bahwa Toh Ee Wei mengalami cedera robek ligamen lutut anterior (ACL).
Seruan Rexy Mainaky
Bagi Rexy Mainaky, pemandangan memilukan tersebut menjadi bukti betapa buruknya sistem perlindungan atlet dalam regulasi medis BWF saat ini.
Sang legenda tidak lagi bisa membendung kekecewaannya. Ia menegaskan bahwa sudah saatnya negara-negara raksasa bulu tangkis dunia bersatu menyuarakan protes keras demi keselamatan para pemain.
Baca juga: Toh Ee Wei Cedera ACL, Juara Dunia Mundur dari Polytron Indonesia Open 2026
"Saya rasa tidak ada gunanya jika hanya saya yang bersuara mengenai hal ini. Menurut saya, negara-negara seperti China, Jepang, Korea Selatan, Malaysia, Indonesia, dan Denmark juga harus ikut angkat bicara. Ini adalah tentang bagaimana para pemain dirawat selama turnamen, terutama ketika menyangkut cedera atau apa pun yang terjadi di lapangan," tegasnya mengutip The Star.
Lebih lanjut, Rexy mengkritik keras tumpukan aturan formalitas BWF yang dinilai kontradiktif dengan realitas di lapangan.
Di atas kertas, aturan tersebut seolah-olah dirancang untuk melindungi pemain.
Tetapi ketika situasi darurat terjadi, para atlet justru dibiarkan berjuang sendiri tanpa bantuan medis yang optimal.
Baca tanpa iklan