Keempat kejadian tersebut dinilai bukan sekadar persoalan tim yang diuntungkan atau dirugikan.
"Yang menjadi perhatian adalah konsistensi penerapan aturan dan standar pengambilan keputusan pada level tertinggi kompetisi basket nasional. IBL memang layak diapresiasi karena terus berupaya meningkatkan kualitas kompetisi, termasuk dengan menghadirkan wasit asing," katanya.
Namun, langkah tersebut dinilai perlu diikuti dengan evaluasi berkala, transparansi penilaian, komunikasi yang terbuka, serta mekanisme akuntabilitas agar kepercayaan terhadap kompetisi tetap terjaga.
Keputusan Wasit Bisa Ubah Arah Pertandingan
Isu ini menjadi semakin penting karena Final IBL 2026 semakin dekat.
Ilham Patria mengatakan kalau banyak pihak berharap hasil pertandingan benar-benar ditentukan oleh kualitas permainan dan strategi tim, bukan oleh kontroversi keputusan perwasitan.
Dia menilai bahwa detail-detail seperti ini tidak bisa lagi dianggap sebagai persoalan kecil.
"Kalau IBL mau terus naik level, sequence-sequence seperti ini tidak bisa terus dianggap hal kecil. Sekarang penonton makin paham permainan, makin memperhatikan detail, dan makin sadar bahwa satu keputusan bisa mengubah arah pertandingan," ujar Ilham.
Menurutnya, jawaban atas persoalan ini akan memengaruhi tingkat kepercayaan pemain, pelatih, klub, sponsor, investor, hingga pencinta basket terhadap IBL.
Apalagi, pada musim 2026 beberapa klub profesional seperti Prawira Bandung, Bali United Basketball, dan Bima Perkasa Jogja sudah tidak lagi berpartisipasi, sehingga penguatan tata kelola kompetisi menjadi perhatian penting.
Ilham menegaskan bahwa pada akhirnya seluruh insan basket Indonesia menginginkan tujuan yang sama, yakni liga yang kompetitif dengan standar perwasitan yang profesional.
"Pada akhirnya, seluruh insan basket Indonesia menginginkan hal yang sama, yaitu kompetisi yang ditentukan oleh performa tim dan pemain, dengan standar perwasitan yang konsisten, transparan, dan profesional," tuturnya.
Baca tanpa iklan