TRIBUNNEWS.COM - Langkah berani juara dunia sembilan kali, Marc Marquez untuk meninggalkan zona nyamannya di Honda pada 2023 lalu menyimpan kenangan pelik bagi bos Gresini, Nadia Padovani.
Nadia Padovani, sosok wanita tangguh yang menakhodai Gresini Racing, baru-baru ini membuka tabir misteri tersebut.
Dirinya mengenang kembali momen-momen yang penuh ketidakpastian, di mana masa depan karier Marquez sangat bergantung pada proses negosiasi pemutusan kontrak yang sangat bersama raksasa Jepang, Honda.
Sepanjang bergulirnya kompetisi musim 2023, masa depan balap The Baby Alien benar-benar terombang-ambing di tengah ketidakpastian.
Hubungan harmonis yang ia rajut selama bertahun-tahun bersama pabrikan sayap tunggal, Honda, tampak berada di ambang kehancuran total.
Benturan regulasi dan legalitas menjadi batu sandungan yang luar biasa besar, kontrak sah sang pembalap sejatinya masih mengikat hingga akhir musim 2024.
Manajemen Gresini dipaksa gigit jari dan menunggu dalam kecemasan hingga tenggat waktu di bulan Oktober demi mendapatkan keputusan final.
"Situasi saat itu benar-benar menyerupai permainan poker berkadar taruhan tinggi," kenang Padovani sebagaimana mengutip Motosan yang melansir Speedweek.
Ketegangan di internal tim pun memuncak hingga ke titik tertinggi.
Padovani mengakui bahwa situasi tersebut memicu kepanikan massal di dalam garasinya karena bursa transfer pembalap untuk musim berikutnya secara de facto telah terkunci rapat.
Baca juga: MotoGP 2026 - Ducati Menolak Tekan Marc Marquez yang Masih Kelelahan
"Memasuki bulan Oktober, nyaris tidak ada lagi pembalap berkualitas yang tersedia di pasar transfer. Kami benar-benar menghadapi risiko besar akan ditinggalkan tanpa satu pun pembalap andalan," ungkap wanita asal Italia tersebut.
Atmosfer ketidakpastian yang begitu pekat membuat jajaran kru dan petinggi Gresini mulai dirundung kekhawatiran akut bahwa mega-transfer ini akan layu sebelum berkembang.
Padovani membeberkan bagaimana internal organisasinya terus-menerus mencecar dirinya dengan pertanyaan krusial mengenai opsi penyelamatan tim.
"Semua orang di tim terus mendesak dan bertanya kepada saya, apa rencana cadangan (Plan B) yang kami miliki?"
Kendati demikian, di tengah badai kepanikan tersebut, ketegasan sang bos perempuan ini tidak goyah sedikit pun. Jawaban yang keluar dari mulutnya selalu konsisten dan mutlak.
Baca tanpa iklan