News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Timnas Indonesia

3 Dosa Besar Patrick Kluivert hingga Harus Angkat Kaki dari Timnas Indonesia

Penulis: Muhammad Ali Yakub
Editor: Arif Tio Buqi Abdulah
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

KONFERENSI PRESS - Pelatih Kepala Timnas Indonesia Patrick Kluivert memberikan keterangan saat konferensi press di Jakarta, Minggu, (12/1/2025). Pelatih Kepala Timnas Indonesia Patrick Kluivert bersama Asisten Pelatih Denny Landzaat dan Alex Poster resmi resmi diperkenalkan dengan kontrak selama dua tahun untuk menangani Timnas Indonesia menggantikan Pelatih Kepala sebelumnya Shin Tae-yong yang diberhentikan oleh PSSI. Terdapat 3 dosa besar yang berujung pemecatan Patrick Kluivert di Timnas Indonesia, hasil buruk di Kualifikasi Piala Dunia 2026 menjadi penyebab utama. (TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN)

Namun, perjuangan tersebut tak mampu berlanjut hingga babak akhir.

Kegagalan ini pun meninggalkan duka mendalam bagi jutaan pendukung Timnas Indonesia, yang selama dua tahun terakhir menaruh harapan besar melihat Garuda berkibar di panggung dunia.

2. Hilangnya Karakter di Lapangan

Salah satu kritik paling tajam terhadap era Kluivert adalah hilangnya identitas permainan yang sudah dibangun sejak era Shin Tae-yong.

Timnas yang dulu dikenal memiliki pertahanan yang solid, dan penuh determinasi. Namun kini tampil pasif, ragu-ragu, dan mudah kehilangan arah di lapangan.

Tidak ada pola jelas dalam build-up, pressing longgar, serta transisi lambat menjadi ciri yang menonjol.

Bahkan, pemain seperti Marc Klok dan Beckham Putra terlihat kehilangan peran karena sistem yang tidak sesuai dengan karakter mereka. Hal tersebut terlihat pada laga Arab Saudi vs Timnas Indonesia di Ronde 4.

Mengacu data dari Sofascore, Marc Klok mendapat rating 6.0, yang menjadi salah satu nilai terendah di antara pemain Indonesia.

Sepanjang 90 menit bermain, gelandang Persib Bandung itu tercatat hanya melakukan 4 kali percobaan umpan lambung dengan 2 yang tepat sasaran, dan tidak mencatatkan satu pun crossing.

Distribusi bola yang minim membuat aliran serangan Indonesia ke lini depan kerap terputus. Garuda nyaris tak memiliki peluang berarti dari open play.

Hal itu sangat berbanding jauh saat Marc Klok membela Persib. Bojan Hodak paham betul menggunakan kualitas Marc Klok. Back to back juara Liga 1 (2023/2024 dan 2024/2025) menjadi bukti.

Kluivert juga kerap mengganti formasi tanpa alasan taktis kuat, mulai dari 4-3-3, hingga 4-2-3-1 yang membuat pemain kesulitan beradaptasi, dikutip dari Transfermarkt.

Akibatnya, chemistry antar pemain hilang dan permainan Indonesia kehilangan jati diri.

3. Hancur Leburnya Timnas U20 dan U23

Selain tim senior, pengaruh negatif Patrick Kluivert juga menjalar ke level kelompok usia, khususnya Timnas U20 dan U23 Indonesia.

Halaman
123
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini