Ringkasan Berita:
- Hasil wawancara Carlo Ancelotti dengan The Athletic yang ditulis Adam Crafton tentang timnas Brasil dan Piala Dunia 2026.
- Tanggung jawab terhormat yang diemban Ancelotti dalam peran barunya sebagai pelatih. Tantangan memenangkan 'mahkota' setelah terakhir kali dirasakan pada tahun 2002, dua dekade yang lalu saat juara di Korea-Jepang.
- Narasi-narasi Ancelotti tentang timnas Brasil dan Piala Dunia 2026.
TRIBUNNEWS.COM - Bagi Carlo Ancelotti, menemukan 24 pemain yang layak masuk dalam skuad final timnas Brasil bukanlah hal yang sulit.
Tantangannya justru mendapat dua pemain tambahan untuk melengkapi 26 kuota pemain yang dapat didaftarkan kepada FIFA untuk Piala Dunia 2026.
"Ini adalah yang paling mudah," buka Ancelotti merujuk pada skuad final timnas Brasil saat diwawancara The Athletic.
"Yang paling sulit adalah mencari tahu dua tempat (pemain) lainnya. Persaingannya sangat ketat," sambungnya.
Dalam sesi wawancara tersebut, Ancelotti dan stafnya telah menilai lebih dari 70 pemain Brasil yang bermain di klub-klub seluruh dunia.
Mereka juga melacak bakat tim Samba di kompetisi domestik, liga-liga teratas Eropa, lalu memperluas jangkauan ke Turki, Rusia, hingga Arab Saudi.
Semua dilakukan demi mendapatkan sosok pemain yang pantas, karena diketahui Brasil tidak pernah kehilangan talenta berbakat disetiap generasinya.
Tapi seiring berjalannya waktu, yang dikhawatirkan Ancelotti bukanlagi soal kualitas pemain, tetapi tentang kebugaran pemain, dan berharap mereka tidak mengalami cedera.
Satu hal yang kini tidak hanya ditakuti oleh Ancelotti, tetapi para pelatih lainnya karena tingkat kompetisi yang padat, terutama di Eropa, serta jadwal pemulihan yang minim.
Tidak sedikit dari pemain-pemain andalan klub mengalami cedera, dan ada sebagian dari mereka yang sudah dipastikan tidak tampil di Piala Dunia 2026.
Di Brasil, ada Eder Militao dan Rodrygo (Real Madrid), serta satu bintang muda Chelsea, Estevao.
"Saya benar-benar takut, dan benar-benar khawatir saat menonton pertandingan," tambahnya.
Peran Baru Ancelotti
Tahun ini di Piala Dunia adalah sesuatu yang belum pernah dirasakan oleh Carlo Ancelotti setelah berkecimpung di dunia kepelatihan sejak awal tahun 1992.
Ia berada di sisi Arrigo Sacchi yang ketika itu berperan sebagai pelatih timnas Italia. Tiga tahun lamanya pelatih yang kerap disama Don Carlo itu bekerja sama hingga tahun 1995.
Ancelotti kemudian hilir mudik menangani klub, dimulai dari Reggiana, sampai yang terakhir Real Madrid.
Berbagai tokoh penting pemilik klub dengan latar dan karakter yang berbeda telah ia hadapi.
Berbagai pemain dengan kualitas juga pernah ia tangani, tetapi kini adalah periode baru bagi seorang Carlo Ancelotti karena memimpin sebuah negara. Apalagi negara yang dia pimpin merupakan negara yang kaya akan sejarah dan salah satu yang tersukses di Piala Dunia.
Brasil memenangkan lima dari 12 edisi Piala Dunia antara tahun 1959 sampai yang terakhir pada tahun 2002.
Ancelotti sendiri beranggapan bahwa Brasil sebagai tim nasional paling bersejarah di dunia.
"Ada sesuatu genetik yang mewariskan bakat dari satu generasi Brasil ke generasi berikutnya, sebuah negara yang reputasinya memikat imajinasi seperti tidak ada yang lain," katanya.
Ingatlah ketika Brasil menang di Piala Dunia 1994. Semua orang terpikat dengan duet Romario dan Bebeto.
Lalu pada tahun 2002 ada trio mematikan, Ronaldinho, Rivaldo, dan Ronaldo dengan tarian 'Samba' mereka saat mengolah bola di lapangan pertandingan, dan dengan sentuhan akhir yang begitu sempurna.
Namun, semua itu tidak bisa terjadi tanpa ada faktor penunjang lainnya. Bakat pemain memang menjadi satu di antara faktor penentu, tetapi ada hal lain yang harus diperjuangkan sebagai sebuah tim demi kemenangan.
"Kita harus menambahkan komponen lainnya: semangat yang baik, sikap, kerja keras, pengorbanan, semua hal semacam itu," tutur Ancelotti.
"Karena bakat saja tidak mampu memenangkan Piala Dunia. Kenangan terakhir saya tentang seorang pemain yang memenangkan Piala Dunia sendirian adalah Diego Maradona (Argentina) pada tahun 1986," cerita Ancelotti sambil tersenyum.
"Namun periode 1986 hingga 2026 adalah 40 tahun, dan sepak bola telah berubah," sambungnya.
Peluang Brasil di Piala Dunia 2026
Talenta-talenta berbakat Brasil tidak pernah habis, dan selalu ada di setiap waktunya. Termasuk untuk Piala Dunia 2026 nanti.
Raphinha, Vinicius, Joao Pedro, Martinelli, Endrick, Rayan, Matheus Cunha, dan berbagai nama lainnya akan menghiasi skuad tim Samba (mnunggu daftar skuad resmi rilis).
Ancelotti yakin dengan kualitas pemain yang dia miliki, Brasil dapat bersaing dengan negara-negara lainnya di Piala Dunia 2026.
Setiap tim tidak ada yang sempurna dan memiliki masalahnya sendiri, tetapi itulah yang akan menjadi tantangannya. Bagaimana menutupi kelemahan yang dimiliki untuk bangkit dan meraih kesuksesan.
"Saya telah mengamati semua tim sepanjang tahun ini. Tidak ada tim yang sempurna. Kami tidak sepenuhnya siap di semua posisi. Tim yang menang tidak akan sempurna, itu akan menjadi tim yang lebih kuat dan mampu bangkit dari kesalahan," jelasnya.
Di bawah Ancelotti, Brasil telah memainkan 10 pertandingan, enam di antaranya adalah laga persahabatan.
Brasil meraih lima kemenangan, tiga kekalahan dari tim-tim kuat, Prancis (Eropa), Jepang (Asia), dan Bolivia.
Apa yang sedang dia bangun saat ini bukan hanya soal performa pemain di lapangan, tetapi juga tentang lingkungan di skuad dan ruang ganti untuk terus dijaga rasa kebersamaannya.
"Bagian terpenting adalah suasana yang harus mampu kita ciptakan di lingkungan kita, di dalam skuad kita, di ruang ganti kita," bebernya.
"Mereka semua memiliki budaya yang sama. Mereka religius dan sling berbicara. Mereka tidak melihat telepon saat bersama. Mereka bermain kartu bersama."
"Harus saya akui, di klub-klub, ada lebih banyak aspek profesional, tetapi orang Brasil benar-benar mencintai timnas mereka, seragam mereka. Ketika timnas bermain di Brasil, semuanya berhenti," jelasnya.
Brasil yang kaya akan sejarah dan prestasi di Piala Dunia telah lama berhenti meraih kemenangan.
Dua dekade lebih berlalu. Lima edisi dilewati, belum ada lagi perayaan-perayaan tentang kesuksesan bagi negara yang memiliki 'pabrik' pemain bertalenta itu.
Kini di tangan pelatih yang juga menjalani periode barunya, namun memiliki 34 tahun perjalanan dengan berbagai rintangan, Brasil akan menatap Piala Dunia 2026 dengan lebih percaya diri.
"Brasil tidak ingin menjadi bagian dari Piala Dunia. Brasil ingin mencoba untuk menang. Ini adalah tanggung jawab kami."
"Tanggung jawab ini adalah suatu kehormatan," tutupnya.
(Tribunnews.com/Sina)
Baca tanpa iklan