TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA — Pola pencarian bakat sepak bola di Indonesia mulai bergeser ke format yang memadukan pelatihan profesional dengan kemasan industri kreatif.
Salah satunya terlihat dalam program soccer camp (pemusatan latihan sepak bola) bertajuk Second Chance yang melibatkan pemain non-profesional dari berbagai daerah.
Sebanyak 50 pemain amatir dari 10 daerah, seperti Bekasi, Jambi, Makassar, Jayapura, Kediri, Bandung, Ambon, Labuan Bajo, Sidoarjo, hingga Samarinda, mengikuti program tersebut sejak 22 Maret hingga 2 April 2026 di Jakarta.
Para peserta menjalani latihan kompetitif dan dipantau langsung oleh sejumlah mentor berpengalaman, termasuk legenda Tim Nasional (Timnas) Indonesia dan Arema FC, Ahmad Bustomi.
Program itu turut melibatkan mantan pelatih Raja Isa dari Malaysia serta Fabio Oliveira asal Brasil. Para peserta mengikuti latihan teknik dan taktik selama menjalani pemusatan latihan.
Berbeda dengan seleksi terbuka konvensional yang umumnya berlangsung singkat, format soccer camp seperti ini menggunakan pola pelatihan intensif disertai evaluasi bertahap selama beberapa hari.
Project Lead Cuwitan Digital, Dyota Pratyaksa, mengatakan program tersebut dibuat untuk membuka ruang bagi pemain muda daerah yang selama ini memiliki keterbatasan akses menuju pembinaan sepak bola profesional.
“Di sini, lapangan hijau menjadi tempat di mana mimpi yang sempat tertunda mendapat napas baru dengan standar profesional yang sesungguhnya,” ujar Dyota dalam keterangannya di Jakarta.
Baca juga: Daftar 5 Pemain yang Bisa Dinaturalisasi Timnas Indonesia untuk Piala Asia 2027: Ada Bek Lincah Ajax
Fenomena pencarian bakat dengan pola pelatihan intensif juga mulai diperkuat di level nasional. Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) bersama FIFA pada 2026 menjalankan program FIFA Talent Development Scheme untuk memperluas sistem talent scouting [pemanduan bakat] pemain muda.
Melalui program tersebut, sebanyak 23 pemandu bakat diterjunkan ke berbagai wilayah Indonesia guna memperluas pemantauan pemain usia muda dari daerah.
Pengamat sepak bola nasional, M. Kusnaeni, dalam sejumlah kesempatan menilai pembinaan usia muda di Indonesia masih menghadapi persoalan struktur kompetisi yang belum berkelanjutan.
Dalam dialog bersama RRI Makassar, Kusnaeni menyoroti minimnya kompetisi reguler sebelum pemain memasuki usia 18 tahun. Ia juga mendorong klub profesional agar lebih serius mengelola pembinaan akar rumput dibanding hanya mengandalkan sistem seleksi instan setiap musim.
Namun, menurut Kusnaeni, upaya tersebut masih terkendala kondisi finansial sebagian klub domestik yang belum stabil sehingga anggaran lebih banyak diprioritaskan untuk kebutuhan tim utama.
Program Second Chance sendiri dikemas dalam delapan episode dan ditayangkan kanal YouTube Cuwitan62. Tak lama setelah penayangan perdana, program tersebut sempat masuk dalam jajaran trending topic di platform media sosial X.
Sejumlah warganet menilai format pelatihan yang memadukan sepak bola dengan unsur hiburan menjadi alternatif pencarian bakat bagi pemain muda dari daerah.
Selain menampilkan persaingan di lapangan, program itu juga dinilai memberi gambaran mengenai disiplin dan tekanan yang dihadapi peserta selama menjalani pelatihan.
Bagi sebagian pemain muda di daerah yang kesulitan menembus jalur pembinaan profesional, model pencarian bakat seperti ini mulai dipandang sebagai salah satu ruang untuk menunjukkan kemampuan mereka di hadapan pelatih dan publik.
Baca tanpa iklan