Tak hanya di lapangan, dampak Como juga mulai terasa terhadap ekonomi kawasan Danau Como.
Mirwan mengatakan klub sengaja membangun ekosistem sports tourism dengan menggandeng komunitas lokal, sektor retail hingga industri perhotelan.
“Orang bilang kita membangun kota. Sebenarnya kita membangun ekosistem sports tourism,” katanya.
Mirwan menyebut dalam beberapa tahun terakhir jumlah hotel mewah di kawasan Como terus bertambah seiring meningkatnya popularitas kota tersebut.
Rahasia Rekrutmen Serie A
Mirwan Suwarso membongkar sistem rekrutmen pemain yang membuat klub milik Grup Djarum itu mampu menjelma menjadi salah satu kekuatan baru Liga Italia hanya dalam waktu singkat.
Di tengah persaingan ketat Serie A, Como memilih meninggalkan pola lama berbasis insting dan membangun sistem perekrutan pemain berbasis data, analisis perilaku, hingga proyeksi bisnis jangka panjang.
“Kita menggunakan sistem data sebagai landasan semua keputusan sepak bola,” ujar Mirwan.
Pendekatan tersebut terinspirasi konsep Moneyball, metode analisis statistik olahraga yang dipopulerkan Billy Beane di bisbol Amerika Serikat.
Mirwan mengaku sengaja mempelajari sistem itu karena merasa keputusan investasi klub tidak bisa hanya bergantung pada intuisi.
“Masa kita berinvestasi besar tapi semua keputusan hanya dijelaskan berdasarkan feeling dan insting. Enggak masuk akal,” katanya.
Untuk membangun sistem tersebut, Como sempat bekerja sama dengan Billy Beane, pemilik Brighton Tony Bloom, hingga mempelajari model analitik Liverpool.
Mirwan menyebut Como kemudian melakukan “reverse engineering” terhadap berbagai sistem tersebut sebelum akhirnya membangun model sendiri.
“Kita pelajari sistem mereka, kita godok ulang, kita cari kelemahannya apa, bagusnya apa,” ujarnya.
Kini, menurut Mirwan, sistem analitik milik Como bahkan mulai dipakai sejumlah klub Eropa lain, termasuk peserta Liga Champions.
“Ada beberapa klub Liga Champions sudah pakai sistem kita sekarang,” katanya.
Baca tanpa iklan