Eks pemain dan pelatih Barcelona itu yakni Belanda bisa melaju jauh di Piala Dunia 2026.
"Kami harus bisa menggabungkan kualitas teknis dan fisik di tim ini, inti yang ingin saya dengar dari orang-orang tentang tim saya ialah mereka bermain dengan intensitas tinggi, sehingga mereka tidak akan berani mengatakan kami tidak melakukan dengan cukup," tegas Koeman.
"Saya ingin para pemain bermain dengan percaya diri, kepribadian, memahami kualitas diri sendiri dan selalu menghormati lawan,"
"Meskipun nantinya ada negara-negara yang disebut kecil di Piala Dunia, semua pertandingan punya nilai tersendiri dan anda tidak boleh lengah," tambahnya.
Mencerna pernyataan yang disampaikan Koeman, ia seakan paham beban sejarah yang dimiliki Belanda setiap kali mentas di Piala Dunia.
Hal itulah yang diprediksi akan membuat Koeman berjuang sebaik mungkin untuk membawa Belanda melampaui batas mereka sendiri.
Suara Lokal Terkait Nasib Ironis Belanda di Piala Dunia
Jika ditanya soal kiprah Belanda di Piala Dunia, ironis menjadi salah satu kata tepat yang menggambarkan nasib Oranye.
Hal itu pula yang disampaikan oleh Arnan Binafsihi selaku Wakil Ketua Umum Oranje Indonesia.
Sebagai negara pencetus total football, Belanda justru kerapkali mengalami crash di momen krusial dalam perebutan gelar juara.
Kondisi semacam itulah yang sangat disesalkan.
Arnan sendiri percaya Belanda punya level yang layak untuk menjadi juara, namun ketika sudah berada di titik krusial, justru tim jagoannya itu hilang momentum.
Sebutan Belanda sebagai juara tanpa mahkota di Piala Dunia pun dianggap Arnan sebagai fakta yang membanggakan sekaligus menyesakkan.
"Satu kata yang layak untuk menggambarkan Belanda dengan Piala Dunia adalah ironis," kata Arnan saat dihubungi Tribunnews, Kamis (28/5/2026).
"Negara yang menciptakan Total Football yang dipelopori Rinus Michels lalu disempurnakan Johan Cruyff hingga menjadi lanasan sepakbola modern saat ini, tapi ironisnya belum memenangkan trofi tertinggi di dunia sepak bola,"
"Juara tanpa mahkota adalah julukan yang membanggakan sekaligus ironis,"
"Membanggakan karena level permainan Belanda dianggap layak untuk menjadi juara dunia, tapi ironisnya masih belum kesampaian menjadi juara dunia," tukasnya.
(Tribunnews.com/Dwi Setiawan)
Baca tanpa iklan