TRIBUNNEWS.COM - Padatnya kompetisi level klub musim 2025/2026 berpotensi membuat para pemain kelelahan di Piala Dunia 2026.
Akibatnya, risiko seperti cedera hingga penurunan daya kompetitif turnamen, membuat kualitas Piala Dunia 2026 dipertaruhkan.
Ditambah, format baru Piala Dunia 2026 yang mengusung 48 negara secara tidak langsung menambah beban fisik dan mental pemain.
Berbagai isu itulah yang mewarnai kesiapan para peserta Piala Dunia jelang bergulirnya kick-off perdana pada Jumat (11/6/2026) mendatang.
Jika menengok jadwal kompetisi sepak bola terutama di level klub, agendanya terlihat semakin padat setiap musimnya.
Apalagi pada jeda musim panas lalu, terdapat agenda Piala Dunia Antarklub yang diikuti 32 klub dari berbagai zona di muka bumi ini.
Dengan adanya turnamen Piala Dunia Antarklub yang formatnya seperti Piala Dunia tersebut.
Otomatis membuat masa liburan para pemain yang berpartisipasi di ajang tersebut terpotong.
Meskipun tidak semua pemain terlibat di turnamen tersebut, tetap saja masalah kebugaran pemain menjadi hal yang dipertaruhkan.
Baca juga: Alarm Bahaya untuk Timnas Prancis, William Saliba Terancam Absen di Piala Dunia 2026
Tak mengherankan, jika tidak sedikit pemain yang mengalami cedera baik sebelum atau selama berlangsungnya kompetisi musim 2025/2026.
Belum lagi soal format kompetisi Eropa mulai dari Liga Champions, Liga Eropa, hingga Liga Konferensi yang memaksa setiap klub yang berlaga di tiga ajang tersebut bermain tiga kali dalam waktu sepekan.
Kondisi kebugaran para pemain benar-benar dipertaruhkan, jelang diselenggarakannya agenda Piala Dunia 2026 di tiga negara berbeda.
Menyikapi hal itu, tak sedikit pemain, pelatih hingga berbagai pihak yang menjadi pemangku kepentingan di dunia sepak bola, telah menyampaikan pro-kontranya soal hal tersebut.
Salah satunya Jamie Carragher yang pernah menyebut pemain selayaknya ternak.
Baca tanpa iklan