TRIBUNNEWS.COM - Kesuksesan Jerman kembali menjadi salah satu kekuatan utama sepak bola dunia tidak terjadi secara instan.
Di balik berbagai prestasi yang diraih Der Panzer dalam beberapa dekade terakhir, terdapat proses panjang yang dimulai dari keberanian melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pembinaan pemain muda alias youth development.
Pelatih dan pengamat sepak bola Rasiman menilai kebangkitan Jerman merupakan contoh nyata bahwa pembangunan sepak bola harus dimulai dari fondasi yang kuat, bukan sekadar mengejar hasil jangka pendek.
Keberhasilan sistem pembinaan tersebut juga menjadi salah satu alasan Rasiman masih menempatkan Jerman sebagai kandidat kuat pada Piala Dunia 2026.
Menurut dia, meski tidak selalu difavoritkan seperti Argentina, Brasil, atau Prancis, Jerman tetap memiliki modal besar untuk bersaing hingga fase akhir turnamen.
"Jerman secara fisikal memang pemain yang sangat kuat. Berada di kondisi apa pun para pemain Jerman secara fisik memang kuat sekali," ujar Rasiman kepada Tribunnews, Rabu (3/6/2026).
Ia menilai kekuatan fisik yang menjadi ciri khas sepak bola Jerman akan membantu mereka beradaptasi dengan tantangan cuaca dan jadwal pertandingan yang padat selama turnamen berlangsung.
Faktor tersebut membuat Jerman tetap layak diperhitungkan di tengah persaingan ketat dengan negara-negara unggulan lain.
Mantan pelatih klub Persis Solo dan Madura United ini menilai, kombinasi antara kualitas pembinaan usia muda, kedalaman skuad, serta budaya kompetitif yang sudah terbangun selama bertahun-tahun menjadikan Jerman sebagai salah satu tim yang berpotensi menembus babak-babak krusial Piala Dunia 2026.
Karena itu, ia memasukkan Jerman ke dalam kelompok negara yang memiliki peluang bersaing bersama Argentina, Brasil, dan Prancis dalam perebutan gelar juara.
Baca juga: Cuaca Ekstrem Ubah Peta Kekuatan Piala Dunia, Rasiman: Inggris Mudah Keok vs Tim Amerika Latin
"Mereka kandidat kuat karena physicality mereka akan compete dengan kondisi yang ada," katanya.
Ayah dari pebola Persik Kediri, Syahrian Abimanyu ini menyatakan, Jerman pernah mengalami fase sulit yang kemudian mendorong federasi sepak bola negara tersebut melakukan reformasi besar-besaran pada sektor pembinaan usia muda.
"Mereka melangkah tiga kali ke belakang dulu memperbaiki youth development sehingga mempunyai tim yang berkualitas," kata Rasiman.
Ia menjelaskan, setelah mengalami kegagalan di level internasional, Jerman memilih fokus membangun sistem pembinaan pemain muda secara berjenjang dan berkelanjutan.
Baca tanpa iklan