TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan tingkat kerawanan bencana tertinggi di dunia, mulai dari gempa bumi, banjir, hingga longsor dan erupsi gunung api. Namun, tantangan terbesar dalam penanganan bencana kerap terjadi pada fase awal kejadian, ketika akses menuju lokasi terdampak terputus, medan masih berbahaya, serta informasi kondisi lapangan sangat terbatas.
Baca juga: Kebakaran Gedung Terra Drone Tewaskan 22 Orang, Polisi Jadwalkan Pemeriksaan Pemilik Gedung
Situasi inilah yang mendorong tiga pelajar Indonesia yang tergabung dalam Tim Bayu Sakti untuk menghadirkan inovasi Drone Rajawali, sebuah pesawat tanpa awak berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang dirancang khusus untuk membantu respons cepat penanganan bencana dan meminimalkan risiko keselamatan tim penyelamat.
Ketiga pelajar tersebut adalah Ksatria Wibawa Putra Murti (16) dan Owen Tay Jia Hao (16), siswa kelas XI Anglo-Chinese School (ACS) Jakarta, serta Arga Wibawa (18), lulusan SMA Al Irsyad Satya Islamic School. Drone Rajawali dikembangkan sebagai autonomous AI-powered disaster response UAV yang mampu bergerak secara mandiri, memetakan wilayah terdampak bencana, serta mendeteksi berbagai indikator risiko yang berpotensi membahayakan proses evakuasi.
Untuk memperkenalkan teknologi tersebut kepada publik, Tim Bayu Sakti menggelar demonstrasi Drone Rajawali di lingkungan ACS Jakarta, Senin (15/12/2025). Demonstrasi ini menjadi ajang unjuk kemampuan sistem drone yang telah dikembangkan melalui proses riset dan pengujian intensif selama lebih dari enam bulan.
Inovasi Drone Rajawali telah lebih dulu mencuri perhatian di tingkat global. Tim Bayu Sakti berhasil meraih juara 4 kategori Drone Disaster Challenge pada ajang World Robot Summit (WRS) di Fukushima, Jepang, Oktober 2025. Tak hanya itu, mereka juga menyabet juara 1 kategori Innovation AI Robot pada World Robot Games (WRG) di Taipei, Taiwan, awal Desember 2025.
Prestasi tersebut mencatatkan Tim Bayu Sakti sebagai perwakilan Indonesia pertama dalam sejarah keikutsertaan di World Robot Summit, sekaligus menjadi peserta termuda dalam ajang tersebut. Sementara pada World Robot Games, mereka menjadi wakil Indonesia pertama yang berhasil meraih posisi juara di kategori inovasi berbasis AI.
Drone Rajawali dirancang untuk menjawab tiga tantangan utama yang kerap dihadapi tim penyelamat saat bencana, yakni tingginya risiko keselamatan personel, terbatasnya akses menuju lokasi terdampak, serta keterbatasan jumlah tenaga penyelamat di lapangan. Dengan teknologi AI-powered image recognition, drone ini mampu mengenali retakan bangunan, label bahaya, hingga indikasi karat pada struktur, yang berpotensi membahayakan proses evakuasi.
Selain itu, Drone Rajawali dilengkapi lengan tambahan yang memungkinkan pengambilan material ringan dari area terdampak untuk keperluan analisis awal. “Indonesia adalah negeri yang rawan bencana. Kami ingin menghadirkan solusi nyata yang bisa membantu proses penyelamatan,” ujar Ksatria Wibawa Putra Murti.
Baca juga: Sindir Pejabat yang Foto-foto di Lokasi Bencana, Prabowo: Saya Tidak Mau Ada Budaya Wisata Bencana
Keunggulan lain Drone Rajawali terletak pada kemampuannya melakukan navigasi mandiri tanpa ketergantungan pada sinyal GPS. Sistem navigasi berbasis LIDAR memungkinkan drone tetap beroperasi meskipun jaringan komunikasi lumpuh akibat bencana. Selama penerbangan, drone dapat memindai area sekitar dan menyusun peta digital yang membantu tim penyelamat mengidentifikasi jalur akses serta rute evakuasi yang relatif aman.
“Kami melihat drone sebagai teknologi yang bisa dikembangkan secara mandiri oleh Indonesia, dengan biaya yang lebih terjangkau dibandingkan solusi lain,” tambah Owen Tay Jia Hao.
Drone Rajawali juga dirancang dengan antarmuka kendali yang sederhana, sehingga dapat dioperasikan oleh tim penyelamat di lapangan tanpa membutuhkan pelatihan teknis yang rumit. Dengan dukungan teknologi ini, satu tim penyelamat dapat menjangkau area yang lebih luas, mempercepat risk assessment, serta mendukung pengambilan keputusan pada jam-jam awal bencana yang sangat krusial.
Dukungan lingkungan sekolah turut berperan besar dalam pengembangan inovasi ini. ACS Jakarta memberikan fleksibilitas akademik bagi para siswa selama proses riset dan keikutsertaan dalam kompetisi internasional.
Meski telah meraih prestasi global, Tim Bayu Sakti menyadari bahwa Drone Rajawali masih berada pada tahap awal pengembangan. Ke depan, mereka menargetkan peningkatan daya jelajah, pengayaan identifikasi risiko, serta pengembangan operasi multi-drone untuk meningkatkan efektivitas penanganan bencana.
Baca juga: 1 Juta Rumah di Ukraina Gelap Gulita usai Serangan Rusia: Pasukan Putin Tembakkan 450 Drone
Melalui inovasi ini, Drone Rajawali diharapkan menjadi salah satu contoh nyata karya teknologi anak bangsa yang relevan dengan kondisi geografis Indonesia dan mampu berkontribusi langsung dalam sistem penanggulangan bencana nasional.
Baca tanpa iklan