News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

FBI Peringatkan Bahaya Aplikasi Populer: Pengguna iPhone dan Android Diminta Waspada

Editor: Tiara Shelavie
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

APLIKASI SMARTPHONE - Foto ilustrasi aplikasi di smartphone yang diunduh di situs bebas royalti Pexels.

Ringkasan Berita:

  • FBI memperingatkan risiko keamanan dari aplikasi asing, terutama yang berpotensi mengakses dan mengumpulkan data pengguna.
  • Aplikasi populer seperti TikTok, Temu, dan CapCut disebut memiliki potensi risiko terkait kebijakan data dan hukum negara asal.
  • Pengguna disarankan hanya mengunduh dari toko resmi, membatasi izin akses, dan waspada terhadap malware serta pencurian data.

TRIBUNNEWS.COM - Beberapa aplikasi populer yang mungkin sudah Anda unduh di iPhone atau Android ternyata berbahaya. Kini Federal Bureau of Investigation (FBI) memperingatkan warga AS untuk menghentikan pemasangan aplikasi semacam itu.

Dilaporkan Forbes, dalam pengumuman layanan publik terbarunya, FBI menyoroti risiko keamanan data dari aplikasi seluler buatan luar negeri yang banyak digunakan di Amerika Serikat — meski ancaman ini bersifat global. Hingga awal 2026, banyak aplikasi terpopuler dikembangkan oleh perusahaan asing, terutama yang berbasis di China.

Peringatan ini berkaitan dengan undang-undang keamanan nasional China yang memungkinkan pemerintah mengakses data pengguna aplikasi. Hukum tersebut mewajibkan perusahaan untuk mendukung kepentingan keamanan negara, termasuk berbagi data jika diminta — seperti yang sebelumnya menjadi sorotan pada TikTok.

FBI tidak merilis daftar aplikasi spesifik, tetapi sejumlah aplikasi populer disebut berpotensi terdampak, seperti CapCut, Temu, SHEIN, dan Lemon8.

Menurut analisis TechRadar, aplikasi seperti TikTok Lite dan TikTok sendiri masih mendominasi unduhan. Risiko pada Android dinilai lebih tinggi karena pengguna bisa menginstal aplikasi dari luar toko resmi (sideloading), meski pengguna iPhone tetap tidak sepenuhnya aman.

FBI menekankan pentingnya memahami izin akses data yang diminta aplikasi. Banyak aplikasi mengumpulkan data seperti kontak, email, alamat, hingga nomor telepon. Data ini bisa digunakan untuk membangun jaringan sosial yang berpotensi dimanfaatkan oleh peretas atau bahkan negara.

Baca juga: Google Rilis Aplikasi AI Edge Eloquent, Ubah Suara Jadi Teks Tanpa Internet

Selain itu, beberapa aplikasi menyimpan data di server di China untuk waktu yang tidak ditentukan. Bahkan, ada aplikasi yang tidak bisa digunakan tanpa menyetujui pembagian data tersebut.

Risiko lainnya adalah malware — aplikasi dapat mengandung kode berbahaya yang mencuri data atau membuka akses ilegal ke perangkat.

FBI menyarankan pengguna untuk:

  • Hanya mengunduh aplikasi dari toko resmi
  • Membaca syarat dan ketentuan sebelum menginstal
  • Membatasi izin akses data
  • Rutin mengganti kata sandi
  • Selalu memperbarui sistem perangkat

Pengguna juga diminta melaporkan aktivitas mencurigakan melalui situs resmi FBI.

Di sisi lain, China juga mengambil langkah serupa dengan menghapus aplikasi pesan terdesentralisasi Bitchat dari App Store karena dianggap melanggar regulasi internet negara tersebut. Aplikasi ini dikembangkan oleh Jack Dorsey.

Ketegangan antara AS dan China terkait aplikasi dan data ini terus berlanjut, mencerminkan persaingan dalam keamanan siber dan kontrol informasi global.

(*)

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini