News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Wisata Bali

Gunung Agung, Tak Ada Air, Jalurnya Terjal, Ini Tips Menaklukkannya

Editor: Malvyandie Haryadi
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Puncak Gunung Agung, dibutuhkan perjuangan, langkah demi langkah dengan semangat untuk mencapai tempat ini.

Laporan Wartawan Tribun Bali, Gunawan

TRIBUNNEWS.COM, DENPASAR – Bali terkenal dengan berbagai wisata alam yang menarik.

Bagi yang suka tantangan, wisata mendaki gunung bisa menjadi pilihan ketika berlibur ke Bali.


Puncak Gunung Agung. (Tribun Bali/Gunawan)

Gunung Agung satu diantaranya, merupakan gunung tertinggi di Bali, tidak pernah dilewatkan oleh para pendaki ketika memutuskan datang ke Bali.

Gunung ini juga sangat disucikan oleh umat Hindu di Bali, memiliki keindahan luar biasa.

Saat berada di puncaknya dan melihat matahari terbit, keindahan alam semesta akan langsung bisa dinikmati.

Pedesaan, hutan, bahkan gunung-gunung tinggi lainnya yang berada di pulau seberang.

Dari puncak Gunung Agung, akan nampak gagahnya Gunung Rinjani yang berada di Lombok. Di arah berlawanan, Mahameru juga masih bisa dilihat, meski kadang samar-samar tertutup kabut.

Namun keindahan tersebut tidak bisa diraih dengan hanya mengedipkan mata, atau membalikkan tangan.

Dibutuhkan perjuangan, langkah demi langkah dengan semangat untuk mencapai titik tertinggi. Dan tentunya, kemauan harus bisa menaklukkan diri.

Pendakian menuju puncak Gunung Agung hingga sampai saat ini diketahui ada tiga jalur.


Rasa lelah hilang seketika setelah melihat indahnya ciptaan Tuhan dari puncak Gunung Agung. (Tribun Bali/Gunawan)

Jalur pertama yakni jalur selatan melalui Pura Pasar Agung, Selat, Karangasem.

Jalur kedua melalui sisi Barat Daya, yakni jalur Pura Besakih, Desa Janggu,Karangasem. Dan jalur ketiga adalah jalur dari sisi tenggara, yakni melalui Budakeling, Karangasem.

Jalur yang akan diceritakan di sini adalah jalur melalui Pura Pasar Agung.

Dari Denpasar menuju Pura Semeru, perjalanan ditempuh kurang lebih 3 jam.

Memang masih belum ada angkutan umum dair Denpasar ke Karangasem.

Para pendaki harus membawa kendaraan pribadi.

Jalanan menuju titik pos pemberangkatan pun juga termasuk sangat menanjak.

Untuk sepeda motor perlu waspada, beberapa titik jalan berkelok dan menanjak yang menyebabkan motor tidak kuat berjalan jika berboncengan.

Sesampai di parkiran Pura Pasar Agung, pendaki terlebih dahulu menuju pos guide.

Pendakian Gunung Agung diwajibkan menggunakan bantuan guide.

Alasannya adalah untuk meminimalisir musibah seperti tersesat ataupun meninggal di gunung. Karena jika ada kecelakaan yang menyebabkan pendaki meninggal, akan dilaksanakan upacara penyucian yang menelan biaya cukup besar.

Tercatat, terakhir korban meninggal pada tahun 2008.

Ada tiga korban dinyatakan meninggal, dengan dua orang lainnya belum ditemukan keberadaannya hingga kini.

Para guide dari Persatuan Wisata Alam Gunung Agung, yakni persatuan guide dari desa setempat akan bersiap menungu para pendaki.

Untuk satu guide biayanya Rp 400 ribu (Juni 2015). Seorang guide akan memandu satu kelompok, dengan maksimal delapan orang.

Perjalanan di jalur ini, menurut para guide, memang direkomendasikan untuk berangkat tengah malam.

Beberapa alasannya yakni, pertama, di jalur ini tidak memiliki lahan yang bagus untuk membuat tenda.

Jika memang terpaksa berangkat siang, untuk mempersiapkan tenaga agar tidak terforsir, tercatat ada tiga titik yang bisa dipakai untuk mendirikan tenda.

Itu pun hanya muat maksimal dua tenda.

Kedua, tak tersedia mata air untuk keperluan selama tinggal di camp.

Dan alasan yang ketiga, barang-barang keperluan camping akan menambah beban untuk melewati jalur terjal menuju punjak.

Perjalanan dari jalur Pura Pasar Agung biasanya dimulai pukul 01.00 Wita. Pemilihan waktu ini dengan perhitungan, perjalanan memakan waktu sekitar 5 jam, di mana nanti ketika sampai di puncak akan tiba waktu sunrise.

Ditakutkan jika berangkat terlalu awal, pendaki akan tiba di puncak terlalu cepat, dan akan lebih lama kedinginan ketika menunggu sunrise.

Jalur Ekstrem


Layaknya tempat yang memiliki ketinggian di atas 1.000 mdpl, tempat yang menjadi titik awal pendakian di jalur Pura Pasar Agung ini juga memiliki suhu yang dingin, yang bisa membuat tubuh menggigil.

Tempat ini memiliki ketiggian sekitar 1.500 mdpl.

Pendakian di mulai sekitar 50 meter dari pos, melewati sekitar 300 anak tangga menuju Pura Pasar Agung.

Pemanasan yang cukup menguras tenaga.

Setelah melewati ratusan anak tangga, kita akan sampai di pelataran Pura Pasar Agung yang cukup luas.

Para guide akan sembahyang terlebih dahulu beberapa menit. Ini adalah ritual wajib para guide atau para pendaki yang beragama Hindu.

Tujuannya untuk meminta keselamatan.

Setelah sembahyang, kita akan mulai memasuki trek sebenarnya.

Menyisir sisi barat pura, kita akan berjalan terus ke arah Utara untuk mencapai puncak.

Hutan hijau dengan trek tanah selebar 1,5 meter akan menemani perjalanan sekitar dua jam.

Jalan ini terus menanjak dengan kemiringan sekitar 45 hinga 50 derajat.

Dan selama perjalanan sampai puncak, jangan sekali-kali mengharapkan “bonus”, yakni jalan datar bahkan menurun, karena jalan tersebut tidak akan ditemui.

Satu jam perjalanan kita akan menemukan pos pertama.

Biasanya pos ini lah yang dipakai para pendaki yang benar-benar ingin mendirikan tenda. Tempatnya ini memiliki lahan agak luas, yang cukup untuk dua tenda.

Satu jam setelah pos 1, kemudian kita akan mulai “keluar” hutan dan berjalan di area terbuka.

Jalan yang akan dilalui selanjutnya adalah trek bebatuan.

Tiupan angin sudah mulai terasa cukup kencang.

Dan suhu dingin akan mulai masuk melalui jaket tebal yang kita kenakan.

Di jalur yang akan dilalui sekitar satu jam ini, kemiringan sudah mulai berubah-ubah.

Mulai 45 derajat hingga mencapai 70 derajat.

Jika sulit membayangkan, anggap saja kita saat ini sedang manaiki tangga.

Dengan kondisi jalan yang cukup terjal dan bebatuan yang licin, tentunya pendaki harus hati-hati.

Karena jika terpeleset, kemungkinan cidera akan besar.

Dan tentunya tidak akan bisa meneruskan perjalanan.

Sekitar setengah jam dari pos 1, kita akan ketemu dengan pos 2.

Patokannya hanya sebuah pohon besar.

Sama dengan pos 1, terdapat lahan yang cukup luas untuk beristirahat.

Setelah sekitar satu jam berjalan di jalan berbatu, trek berikutnya adalah jalan terjal terakhir sebelum puncak.

Bukan main, trek yang dilalui kini sudsah bukan trek normal. Rata-rata kemiringan jalan di tas 70 derajat. Bebarapa kali pendaki akan dipaksa jalan ke kanan lalu ke kiri lagi, karena jalan terlalu curat dan tidak bisa dilalui dengan berjalan lurus.

Trek ini juga merupakan jalan terjal terpanjang sebelum sampai ke puncak.

Kali ini, bukan hanya kaki yang akan bekerja ekstra.

Kedua tangan beberapa kali akan dipaksa memegang bebatuan untuk keseimbangan diri dan membantu menaiki jalur terjal.

Belum lagi angin yang tercatat berhembus dengan kecepatan mencapai 130 km/jam membuat suhu dingin menusuk kulit dan seakan memaksa keringat untuk tak keluar dari pori-pori.

Satu jam sebelum puncak, kita akan menemukan pos 3.

Tempat yang lumayan tertutup dari hembusan angin yang cukup kencang.

Biasanya di pos ini guide juga akan mengajak beristirahat cukup lama, 10-15 menit sambil menikmati snack.

Perjalanan pun bisa dilanjutkan kembali.

Setelah perjalanan ekstrim, dan puncak Gunung Agung kan terlihat.

Semangat kembali akan memacu langkah.

Dan, lelah perjalanan akan terbayar saat kaki menginjak puncak Gunung Agung.

Kita akan melihat matahari muncul perlahan, bersanding dengan gunung Rinjani yang berada di timur Gunung Agung.

Matahari semakin meninggi, hamparan di sekitar Gunung Agung mulai nampak.

Dari balik gumpalan awan terlihat pedesaan, hutan, dan tentunya jalur yang terlewati tadi.

Di sisi barat tak kalah menakjubkan.

Terlihat Gunung Batukaru yang diselimuti awan.

Puncaknya terlihat mengambang di atas gumpalan awan.

Semakin jauh lagi melihat ke arah Barat, akan nampak Gunung Semeru.

Namun saat itu tak begitu jelas karena awan menyelimuti.

Di puncak yang memiliki ketinggian 2.880 mdpl ini (puncak dengan ketinggian 3.100 mdpl dilalui dari jalur Besakih), terdapat tempat persembahyangan yang disucikan oleh umat Hindu.

Terdapat arca Ganesha, Brahma, Wisnu, dan Shiwa serta perwujudan dua naga di samping kanan dan kirinya.

Para pendaki yang beraga Hindu tampak melakukan persembahyangan di sana.

Di belakang tempat sembahyang terlihat kawah Gunung Agung.

Entah bagaimana kondisi puncak ini saat letusan 1963 lalu.

Letusan terakhir yang menelan lebih dari 1.000 korban jiwa.

Jaga Stamina Saat Turun

Setelah cukup mengabadikan momen di puncak, waktunya perjalanan pulang.

Dan kita kembali kan berjumpa dengan trek yang kita lalui sebelumnya.

Dan, jangan kaget saat kita melihat trek yang kita lalui sebelumnya waktu pagi.

Karena saat dilihat pagi hari, trek akan terlihat benar-benar terjal.

Setelah sebelumnya tidak nampak karena kondisi gelap.

Saat perjalanan pulang, kehati-hatian lebih dibutuhkan.

Jalan menurun, jalan terjal, dan stamina yang sudah banyak terkuras akan menurunkan konsentrasi.

Namun perjalanan pulang ini mata kita akan lebih dimanjakan pemandangan indah di lereng Gunung Agung.

Trek yang tidak mudah membuat waktu tempuh perjalanan pulang tidak jauh berbeda dengan perjalanan saat berangkat.

Perjalanan pulang akan memakan waktu sekitar 4-4,5 jam.

Waktu bisa bertambah jika pendaki sering istirahat untuk melemaskan kaki yang mulai sering kram.

Sesampainya di Pura Pasar Agung, semua akan terasa plong.

Tinggal kepuasan dan kenikmatan. Pengalaman yang tidak terlupakan. Karena trek menuju puncak tertinggi Bali tersebut memang bukan hal biasa, dan patut untuk dicoba. (*)

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda

Berita Populer

Berita Terkini