Saat itu uang tersebut sebagian besar digunakan untuk sewa tempat, yaitu sebesar Rp 3 juta. Sementara sisanya untuk bahan-bahannya.
Pada awalnya, masyarakat belum meliriknya, sehingga pernah dalam sehari hanya laku Rp 3.000. Namun lambat laun, dagangan mereka mulai laku dan Mardi pun bergabung dan merk 'Mandiri 214' pun dibuat.
Arti dari merk tersebut, adalah merk keluarga. "Mandiri artinya tidak bekerja untuk orang lain, sedangkan 214 artinya berdua satu tempat," jelasnya.
Sejak bergabungnya Sumardi, usaha bakpia mereka ini mulai meningkat. Saat ini mereka telah memiliki empat cabang dan segera membuka cabang ke lima.
Mengenai omzetnya, jelas Mardi, makanan jenis ini sangat tergantung dengan musim liburan. Kalau hari-hari biasa, satu cabang paling banter hanya menjual 50 bungkus. Namun kalau libur wiken, hari raya atau libur sekolah bisa menjual hingga 500 bungkus dalam sehari.
Baca tanpa iklan