TRIUNNEWS.COM - Jumat pekan lalu, saya melaksanakan shalat jum’at di salah satu masjid
di kawasan jalan Pongtiku, Makassar, Sulsel. Tidak banyak yang sempat saya dengarkan dari
khutbah saat itu. Bukan karena saya tertidur seperti kebanyakan kita
yang tertidur saat khotib menyampaikan khutbahnya atau bicara bersama
teman di samping saya. Itu karena saya telat hadir di masjid saat itu
sehingga mungkin pahala yang saya dapatkan hanya sebutir telur ayam.
Khutbah selesai dan muadzin segera ambil posisi dan mengumandangkan
iqamah. Shalat jum’at berjamaah akan segera dimulai. Imam pun
mengingatkan kepada jemaah untuk meluruskan shaf dan merapatkannya
sebelum nantinya ia mengangkat takbir. Saya pun antusias merapikan dan
mengajak jamaah yang lain untuk merapatkan shaf. Beberapa kali saya
menyeru namun orang di samping saya tak juga merapat. Akhirnya kubiarkan
saja shaf itu renggang dan kumulai untuk ikut takbir. Dalam hati sempat
terbersit kekesalan akan orang yang disamping saya yang tidak mau
merapatkan shafnya. Seperti kebiasaan saya menggumam dalam hati setiap
kali saya shalat di masjid. Apalagi masjidnya agak besar. Sering saya
berfikir, mengapa kita selalu membiarkan shaf kita tidak rapi,
membiarkan celah menganga dimana-mana. Mengapa di masjid besar tak
pernah kutemukan jemaah shalat dengan shaf yang lurus, rapat dan rapi?.
Apakah ini meniscayakan keseharian kita yang enggan bersatu? Lewat
tulisan ini, semoga kita bisa memperbaiki kesalahan-kesalahan kita dalam
berjamaah.
Merapatkan Shaf
Jama’ah sendiri berasal dari kata Al-Jam’u, Al-Jam’ah yang berarti
jumlah manusia yang banyak. Lawan dari kata ini adalah Al-Mutafarruq
(perpecahan). Jadi, shalat berjamaah itu sendiri adalah shalat yang
dilakukan secara bersama antara imam dan makmum dan di dalammnya
terdapat ketentuan atau syarat-syarat tertentu.
Salah satu ketentuannya adalah meluruskan dan merapatkan shaf. Dalam
sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, dari Nu’man bin Basyir
ra. Rasululullah SAW pernah bersabda “Luruskan (samakanlah) shaf-shaf
kalian (beliau mengulangi 3 kali), maka demi Allah hendaklah kalian
meluruskan shaf kalian atau sungguh Allah akan menyelisihkan diantara
hati-hati kalian.” Dalam riwayat lain disebutkan “Hendaklah Kalian
meluruskan shaf-shaf kalian atau Allah akan menyelisihkan di antara
wajah-wajah kalian.”(Hadist riwayat Bukhari). Dua dalil ini
mengisyaratkan kepada kita bahwa meluruskan dan merapatkan shaf adalah
wajib dalam shalat berjamaah. Mengapa wajib? Karena di akhir sabda rasul
ini didapati ancaman jika kita membiarkan shaf renggang. Ancaman bahwa
Allah akan menyelisihkan di antara wajah-wajah kalian itu sebenarnya
dapat dimaknai sebagai peluang adanya perselisihan, pertikaian atau
perbedaan dalam ummat Islam jika kita enggan merapatkan shaf dalam
shalat berjamaah. Rasulullah SAW juga mengingatkan kepada kita
“Rapatkanlah shaf-shaf kalian, saling berdekatanlah, dan luruskanlah
dengan leher-leher (kalian), karena demi Dzat yang jiwaku berada di
dalam genggamannya, sesungguhnya aku melihat setan masuk dari
celah-celah shaf seakan-akan dia adalah kambing kecil.” (HR Abu Dawud).
Bisa jadi syetan-syetan yang menyelinap dalam celah-celah shaf itulah
yang menyemaikan benih kebencian dalam hati kita sehingga shalat yang
kita lakukan tidak mampu mencegah kita dari perbuatan keji dan mungkar.
Allah Azza Wa Jalla berfirman “Sesungguhnya Allah menyukai orang yang
berperang di jalan-Nya dalam barisan yang rapi (teratur) seakan-akan
mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh” (Surah Shaf : 4).
Ayat ini menyerukan kepada manusia untuk merapatkan barisan dalam jihad
di jalanNya. Tidak hanya dalam jihad berperang tetapi juga shalat
berjamaah. Shalat berjamaah juga merupakan jihad, karena dalam
melaksanakannya kita dituntut untuk rela meninggalkan pekerjaan,
perdagangan kita atau aktivitas apapun itu.
Kita juga sering mendapati imam menyeru acap kali ingin memulai shalat
berjamaah. “Sawu shufufakum..” atau “Luruskan dan rapatkan shaf..” agar
para jemaah mudah mengerti. Di saat seperti ini semestinya para jemaah
wajib menaati perintah sang imam untuk merapatkan shaf. Karena antara
imam dan makmum terdapat relasi instruksional agar makmum mengikuti
imam. Dalam sebuah hadist, Nabi Muhammad SAW bersabda “Sesungguhnya imam
itu dijadikan untuk kamu ikuti, maka janganlah kamu menyelisihinya…”
Jelaslah bahwa sebagai seorang makmum kita harus mengikuti imam, baik
gerakan atau perintahnya, termasuk seruan merapatkan shaf.
Dimensi Sosial
Ada banyak makna yang terkandung dalam shalat berjamaah. Terlebih jika
kita merapikan dan merapatkan shaf kita. Beragam manfaat yang
ditawarkannya. Pertama, shalat berjamaah mampu membangun hubungan
emosional yang erat diantara kita. Membangun kepedulian satu sama lain.
Salam di akhir shalat itulah yang merupakan manifestasi kepedulian kita .
Mendoakan keselamatan bagi orang yang berada di kiri kanan kita.
Terkadang, dua orang yang bermusuhan bisa kembali berbaikan jika ia
shalat berjamaah. Kedua, dalam shalat berjamaah terdapat kesetaraan.
Kesetaraan sebagai manusia yang sama di hadapan sang Khalik. Tak ada
diferensiasi antara si kaya dan si miskin, pejabat dan rakyat. Semua
sama, semua punya hak untuk berada di dalam satu shaf. Terlebih ketika
diri ini bersujud, merendahkan diri di hadapanNya. Ketiga, shalat
berjamaah mengajarkan kita untuk disiplin dan membiasakan diri untuk
mengikuti pemimpin kita. Tak ada yang berani menolak untuk ruku’ ketika
imam ruku’ dan sujud ketika imam sujud. Begitu pula jika kita masbuk,
kita dianjurkan untuk langsung mengikuti gerakan imam. Semua bergerak
bersama dalam satu komando.
Semua itu bermuara pada dimensi terpenting dalam shalat berjamaah.
Adalah memupuk rasa integritas, kesatuan gerak, kesatuan rasa. Semua
bersatu dalam gerak harmoni seirama, dipimpin oleh satu imam. Shalat
berjamaah menghidupkan rasa kemerdekaan (freedom), persamaan (equality)
dan persaudaraan (brotherhood) Dimensi social inilah yang sebenarnya
bisa memberikan stimulus bagi perkembangan perilaku kita. Toleran,
kerukunan dan kebersamaan. Hal yang jarang kita dapati dalam kehidupan
nyata. Padahal, jika kita mengamati kemajuan prilaku religiusitas
masyarakat sekarang semakin meningkat.
Coba tengok, masjid yang dulunya sering kosong melompong kini telah
diisi oleh jemaah. Di masjid dekat rumah saya, jamaah shalat isya yang
dulunya tidak lebih dari satu shaf kini merapat ke belakang hingga
mencapai tiga shaf. Bak gayung bersambut, pembangunan masjid pun
dimana-mana. Data dari Departemen Agama menunjukkan saat ini kurang
lebih ada sekitar 700.000 buah masjid tersebar di seluruh pelosok
negeri. Meningkat dari tahun 2004 yang jumlahnya hanya 643.834 buah
masjid. Pengurus masjid berlomba-lomba mempercantik bangunan masjid
dengan memugar sana-sini, berusaha keras agar jemaah nyaman berada di
dalam masjid. Entah tujuannya untuk apa. Apakah agar pemasukan celengan
masjid bertambah atau apalah. Terlepas dari tendensi dan motivasi di
baliknya, yang jelas kita bersyukur atas semua itu. Karena masyarakat
kita kini lebih religius. Jika begitu, mengapa toleransi, kerukunan dan
kebersamaan sulit kita raih? Mengapa kita masih saja saling menghujat
dan menyalahkan satu sama lain? Hingga berujung pada pertikaian, tawuran
yang tak jarang merenggut nyawa. Seakan menganggap perdamaian, prestise
itu hanya diperoleh dari perang. Mengapa kita malah semakin “buas”
setelah ritual keberIslaman kita meningkat? Justru banyak diantara kita
yang mengaku beriman namun malah menjadi “panglima” setiap kali ada
kekerasan dengan alasan agama.
Sebuah Refleksi
Mungkin salah satunya disebabkan karena kekeliruan kita dalam
menjalankan aktivitas keberagamaan kita. Kita menganggap bahwa ibadah
hanya sekedar dimensi ritual an sich. Tak ada dimensi social di
dalamnya. Salah satunya, dalam melaksanakan shalat berjamaah. Kita
enggan menyempurnakan dan merapatkan shaf. Padahal ketika berjamaah
itulah moment dimana seluruh umat muslim bisa bersatu. Tak ada
perbedaan, satu kata dan perbuatan. Kita tentunya sangat menantikan hal
itu. Dimana toleran, kerukunan dan kebersamaan terangkum dalam kehidupan
social kita. Yang jelas, perdamaian dan kerukunan yang kita dambakan
bersama bukanlah suatu yang absurd. Ummat Islam bersatu bisa saja
dicapai jika kita mulai dari hal yang kecil seperti ini. Namun jika kita
masih enggan, sangat naif jika kita berharap demikian. Semua ummat
bersatu membagun negara ini atau bahkan melawan musuh Islam. Wajar jika
perpecahan dan perselisihan itu masih ada. Seperti hadits Rasulullah
berikut ini; Hai hamba-hamba Allah, kalian benar-benar meluruskan shaf
kalian (jika tidak) Allah akan (menimbulkan perselisihan) di antara
wajah-wajah kalian.” (HR Muslim dan Ahmad)
Wallahu A’lam.
Pentingnya Merapatkan Shaf Salat
Penulis: Awank Darmawan
Editor: Widiyabuana Slay
AA
Text Sizes
Medium
Large
Larger
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca tanpa iklan