MEMBACA "Nibiru dan Kesatria Atlantis" karya Tasaro GK, dari halaman awal serasa langsung dihanyutkan oleh plot cerita yang begitu deras dan berombak.
Nyaris tak ada kesempatan untuk menghela napas dari detik-detik awal.
Setidaknya, kesan itu yang saya tangkap setelah meminta tanggapan
beberapa pembaca yang saya kenal.
Sayangnya, meskipun terhanyut dalam cerita yang begitu deras, namun
cukup banyak hambatan yang terkadang memaksa pembaca kembali lagi ke
bagian awal cerita. Ini terjadi karena sangat susah mengingat apalagi
mencerna dialog, nama tokoh, tempat, dan semua yang terkait penamaan,
karena pengarang memakai "bahasa planet"-nya sendiri, sehingga asing
bagi pembaca.
Sebut saja sebagai contoh, saat Dhaca Suli dikejar makhluk gelap bermata menyala (hal. 2), muncul dialog, "Nyedpanyu thingap nyapay sibha madhi, Dhaca!"
Pada saat pertama membaca, siapa yang bisa mengartikan secara harfiah
kalimat ini, walaupun kemudian pengarang memberikan penjelasan, "Makhluk
siluet itu sesumbar, Dhaca tak akan lolos."
Pembaca yang kritis tentu akan berhenti sejenak di kalimat ini, sebelum
memutuskan akan melanjutkan membaca atau memenuhi rasa penasaran untuk
membongkar kata-kata dalam 'bahasa planet' tersebut.
Saya pribadi sebagai pembaca, memilih opsi kedua. Saya harus bisa
mencari kode-kode utama agar bisa memecahkannya. Beruntung bila bisa
membantu memahami novel yang pasti sangat memesona ini.
Dari pengalaman masa kecil, ketika sering berlomba dengan teman
sepermainan untuk memecahkan kode sandi bahasa, akhirnya saya paham
bahwa kalimat "Nyedpanyu thingap nyapay sibha madhi, Dhaca!" itu
sebenarnya bahasa Indonesia yang dikodifikasi secara berbeda oleh
penulisnya. Kalimat itu berbunyi, "Hengkahu [engkau] tidak akan bisa
lari, Dhaca!"
Hanya karena kalimat itu pula, dan juga didorong rasa penasaran, nyaris
dua jam saya hanya mogok di halaman 2 ini. Tak bisa beranjak, karena
harus memecahkan kode-kode yang sebenarnya telah dipaparkan Tasaro GK di
halaman pembuka:
(Bertempur hingga akhir. Sebuah peradaban tenggelam ke dasar lautan. Rahasia besar terungkap. perasaan cinta tak terkatakan. Akhir sebuah perjalanan akan menjadi awal pencarian teramat panjang. Dhaca Suli menulis di hari terakhir bagi penguasa Benua Besar Atlantis).
Kode-kode 'bahasa planet' Nibiru yang diciptakan Tasaro ini, secara umum bisa diurai menjadi:
bh = s, p = kh, m = l, ny = h, dh = r, j = c, y = n, g = w, th = t, ng = dh/d, k = n, r = d (padanan juga berlaku sebaliknya)
Sehingga, kata "Sedh.thel.kudh" dapat dijabarkan menjadi "B[h]er.tem.pur". "Nyid.wa = hing.ga", "Nya.pidh = [H]a.khir", dan seterusnya.
Kata-kata 'planet' yang banyak berseliweran di novel setebal 704 halaman ini bisa dilihat di bagian lain dalam tulisan ini (Side-Box).
Apakah tidak ada kesalahan penulisan karena sangat susah mengingat satu
per satu padanan abjad dalam 'bahasa asing' dari Planet Nibiru ini? Itu
juga yang ada dalam kekhawatiran saya.
Terdapat satu kata yang masih cukup mengganjal dan belum bisa saya
pecahkan, yakni kata "nyinaw" yang merupakan bagian Pugabha. Dalam Kitab
Pugabha, disebutkan bahwa Pugabha nyinaw adalah penguasa
ketakkasatmataan alias kekuatan untuk bisa menghilang.
Lantas, mengapa kekuatan menghilang tersebut disebut "Nyinaw", bukannya
"Nyimad"? Sebab, bila dipadankan dengan kode yang saya pecahkan, kata
"Nyinaw" sama dengan "Hikag", sedangkan "Nyimad" sama dengan "Hilang".
Semoga ini hanya kekhilafan saya saja, bukan kesalahan penulis novelnya.
Apalagi kata "Nyinaw" itu bukanlah substansi.
Jadi, dalam tulisan ini, saya tidak dapat membahas mengenai isi
novelnya, karena mendadak disibukkan untuk memecahkan teka-teki 'bahasa
planet'-nya Tasaro. Pada saat peluncuran novel "Nibiru dan Kesatria
Atlantis", Sabtu (11/12/2010) lalu, Tasaro sendiri mengatakan bahwa
'bahasa planet' yang dia ciptakan untuk novel ini adalah hasil kreasinya
sendiri.
Karena itu pula, siapa tahu apa yang telah saya lakukan ini sedikit
banyak bisa membantu pembaca untuk lebih memahami, sehingga dapat lebih
memaknai buku pertama dari pentalogi Nibiru ini.
"Bhelowa sedhlaykaath. Nyaha iyi nadh ngakath bhana sedhipay...." Semoga berkenan! (iwan ogan apriansyah)
Baca tanpa iklan