Oleh Tubagus Adhi
PARA pemangku dan pelaku equestrian yang tergabung dengan Equestrian Indonesia (Eqina) sepertinya bisa tidur lebih lelap dan nyenyak tadi malam. Kelelahan yang mendera dari saat mempersiapkan, dan kemudian menggelar Kejuaraan Mengenang Almarhum AE Kawilarang, sudah pupus. Rasa capek dan letih tergantikan oleh kepuasan batin yang sulit dilukiskan.
Senyum yang terus mengembang di akhir kejuaraan, Minggu (16/6/2013) petang, sudah menjadi petanda baik jika para 'stakeholders' Equestrian Indonesia atau Eqina bisa melewati akhir kejuaraan bergengsi ini dengan tenang, nyaman, dan dalam tidur yang menyenangkan.
Sejak awal, ada kegairahan luar biasa untuk mengikuti seri ke-4 dalam rangkaian kejurnas Eqina 2013 yang dikaitkan dengan perayaan menyambut HUT ke-486 Kota Jakarta sehingga ada kehadiran dari Wagub DKI Basuki Tjahaya Purnama (Ahok) serta jajaran petinggi KONIDA DKI dan fungsionaris olahraga di ibukota.
Dari gelora berkompetisi yang demikian meluap-luap itu, AEK Memorial II mencatat beberapa rekor, terutama jumlah 'entries', atau penampil di seluruh nomor/kelas, yang nyaris menembus angka 410. Total kuda yang 'berlaga' pun terhitung luar biasa, yakni 130, sementara akumulasi dari para 'riders' atau atlet/penunggang adalah 112. Kesemua itu sudah mencakup keikutsertaan beberapa klub/stable baru, terutama dari Jatim, Maluku Utara atau Kalsel yang selama ini lebih dikenal sebagai 'basis' pacuan atau lumbung kuda ternaik.
Kegairahan yang luar biasa dari para pelaku equestrian untuk larut dalam kompetisi di AEK Memorial II ini jelas tidak sia-sia. Kesemuanya mendapatkan atmosfir persaingan yang luar biasa. Sepanjang tiga hari perlombaan, bisa dikatakan bahwa tetap sulit untuk memperkirakan 'rider' atau kuda yang akan menjadi bintang pada setiap nomor, kelas atau kategori yang diikutinya. Di satu sisi, ini tentu sangat menggembirakan dan membanggakan.
Persaingan yang seru, ketat dan diwarnai kejutan-kejutan ini tentunya tak bisa dilepaskan dari kesiapan atau persiapan yang dilakukan masing-masing kompetitor. Siapa yang lebih fokus, terutama mampu untuk menjalin sinergi atau kebersamaan dengan kuda tunggangannya masing-masing, dialah yang lebih berhak menuai prestasi. Dari jajaran 'bintang' yang gagal bersinar pada 'event' ini salah satunya adalah Galih Rasiono, penggagas perkumpulan equestrian Universitas Indonesia (UI).
Setelah berturut-turut tampil mengesankan di tiga seri kejurnas Eqina sebelumnya, yakni AEK Memorial I, Eqina Terbuka, dan Jateng Masters, Galih yang justru 'tinggal' di kawasan Pulo Mas terpuruk. Dia gagal menempati posisi tiga teratas dari 12 'entries' yang diikutinya. Adiknya, Anjasmara Wibisono, justru lebih berhasil.
"Benar-benar bad days buat saya. Rasanya saya sudah cukup fokus. Tapi, ya, sudahlah, anggap saja lagi kurang beruntung," kata Galih, Minggu sore. Perasaan sama melilit hati Rahmat Natsir. 'Rider' senior dan pengajar di Anantya stable ini juga gagal merebut satu pun gelar dari banyak 'entries'. Nasib baik juga justru lebih memayungi adiknya, Rosad Natsir. "Adik saya makin maju, baguslah," ucap Rahmat, mungkin mencoba menghibur diri.
"Tapi, cuaca hari ini juga luar biasa panasnya. Saya kira sedikit banyaknya itu juga mempengaruhi perilaku kuda," sambung Rahmat Natsir. Anomali atau keanehan cuaca memang membayangi gelaran AEK Memorial II ini. Saat masa persiapan, pembuatan 'venues' atau 'course' equestrian di arena pacuan kuda Pulo Mas ini sempat 'terganggu' oleh hujan deras yang berulangkali turun. Akan tetapi, pada akhirnya fakta menunjukkan betapa AEK Memorial II memang 'layak hadir' dan juga 'layak tonton'.
Pada Kamis (13/6/2013) malam saat pertemuan tehnik yang dilanjutkan tumpengan untuk mendoakan kelancaran kejuaraan, kawasan Pulo Mas diguyur hujan deras sehingga puluhan kuda yang berada di kandang-kandangnya terus mengikik panjang-pendek, entah terganggu atau malah senang.
Namun, cuaca sangat cerah keesokan harinya, sehingga seluruh perlombaan tunggang serasi (dressage) bisa diselesaikan tepat waktu. Di hari kedua, Sabtu, selepas siang, awan tebal sudah menggantung di langit-langit. Mendung sudah demikian tebal di belahan barat, dan sepertinya awan hitam tinggal menunggu waktu untuk mencurahkan hujan deras. Kegelisahan dan was was, itu pasti, mendera semua orang di sana, termasuk para administrator lomba. Ditengah suasana kekhawatiran akan hujan deras itu, dari 'desk perlombaan' juri senior Nico Pelealu berucap,
"Tenang saja, Tuhan menyertai ihtiar kita. Sebentar lagi juga cuaca cerah," katanya, setengah serius. Walau demikian, tentu saja karena Kuasa Tuhan semata maka awan hitam dan mendung tebal tak lama kemudian sirna. Pada hari terakhir, Minggu, sejak pagi arena perlombaan didera cuaca panas dan nyaris tanpa angin sehingga udara terasa lembab. Pada aspek lainnya, kontur atau topografi tanah yang berair membuat pengerjaan 'course' di arena pacuan kuda Pulo Mas itu harus dilakukan ektra-keras.
Kalau pun ada insiden, misalnya jatuhnya beberapa 'rider' di salah satu bagian 'course', itu juga mungkin bukan karena ketidaksempurnaannya. Akan tetapi, mungkin juga karena sekadar 'badluck' atau kurang beruntung. Pemilik Universitas Budi Luhur, Kasih Anggoro, contohnya. Di kelas 50-70 cm yang terbilang rendah dan banyak diikuti pemula, Kasih Anggoro pun terjerembab dari kudanya.
Patut diingatkan, arena equestrian AEK Memorial II ini dibangun persis di atas 'venues' dari Kejuaraan Pazzia Grand Prix yang digelar 2010 lampau. FENOMENAL. Sesungguhnya, memang, begitu banyak pujian yang dilontarkan atas kontes AE Kawilarang Memorial II yang digelar di arena equestrian Pulo Mas, selama tiga hari sejak Jumat hingga Minggu itu. Pujian tak hanya terlontar dari para 'stakeholders' Eqina sendiri, baik kalangan pembina, pengurus maupun 'riders'-nya yang fanatik.
Akan tetapi, juga dari jajaran tokoh yang selama ini diketahui 'berseberangan' dengan mereka. Rafiq Hakim Radinal Mochtar, yang pernah menjabat sekjen di Federasi Equestrian Indonesia atau EFI, adalah salah satu diantaranya. Rafik Hakim Radinal Mochtar bukan 'orang sembarangan' di pentas berkuda nasional.
Ia pernah menjadi 'rider' andalan nasional, bahkan bisa disebut satu tingkat di atas generasi 'awal 70-an' yang dimotori Ardi Hapsoro Hamidjoyo, salah satu pendiri Eqina pada medio Desember 2012. Rafiq yang putra mantan menteri Pekerjaan Umum di era Soeharto itu, yakni Radinal Mochtar, juga sudah 'malang melintang' di organisasi berkuda, termasuk sebagai salah satu deklarator pendirian ECI (Equestrian Commission of Indonesia) pada medio Februari 2001.
Dari pergulatan misi, visi dan dinamika yang berkembang seputar pengelolaan equestrian, Rafik pun menjadi salah satu tokoh pendiri EFI, pada awal Februari 2009. Mungkin sekadar pertimbangan 'bisnis saja' yang membuat Artayasa stable yang dimiliki keluarga Rafiq menjadi 'tuan rumah' dari gelaran AEK Memorial I pada awal Maret lalu.
Sebab, walau telah mengundurkan diri dari posisi sekjen di EFI, Rafiq tetap lebih dipandang cenderung berpihak ke 'kubu sebelah', yakni EFI. Karena itu, wajar kalau hubungan Rafiq dan sahabat-sahabatnya di Eqina seperti tetap berjarak. Namun, kebekuan hubungan itu seketika langsung mencair, menyusul kedatangan Rafiq dan istrinya ke arena perlombaan pada Minggu sore.
Kehadiran Rafiq disambut tatapan mata berbinar-binar, senyum gembira dan peluk cium dari para sahabatnya. Dan, Rafiq pun tak menutupi nuansa kebanggaannya dengan turut menyaksikan persaingan perebutan gelar pada beberapa nomor pamungkas. Rafiq duduk membaur dengan jajaran petinggi PP Pordasi dan Eqina, termasuk Ketua Umum PP Pordasi Muhammad Chaidir 'Eddy' Saddak dan Ketua Umum Eqina Jose Rizal Partokusumo.
"Rafiq terlihat senang sekali," begitu antara lain dikemukakan Eddy Saddak. Ketua Umum PP Pordasi itu menyatakan, bahwa pada kesempatan itu Rafiq juga menguraikan apresiasinya atas gelaran AEK Memorial II yang begitu luar biasa dan fenomenal.
"Dia mengucapkan terimakasih karena saya benar-benar memperhatikan pengembangan equestrian," papar Eddy Saddak.
MAKIN BERKUALITAS
Dalam evaluasinya terhadap pelaksanaan AEK Memorial II, Ketua Umum Eqina Jose Rizal Partokusumo antara lain menyebut semakin tingginya atmosfir persaingan diantara para 'rider' dan kuda-kuda tangguh dari klub-klub anggota Eqina. Secara keseluruhan, Jose Rizal Partokusumo mengurai sembilan poin penting yang akan tetap menjadi 'rujukan' dari pembina dan pengurus Eqina dalam upayanya terus menggelorakan semangat berkompetisi dari seluruh pelaku equestrian di tanah air.
Ke-9 poin yang ditekankan Jose Rizal Partokusumo, adalah:
1.Semakin hari animo, dukungan dan partisipasi masyarakat, khususnya komunitas berkuda kepada Eqina & Pordasi bertambah besar yang tercermin dari jumlah peserta dan penonton pada setiap 'event' selalu meningkat.
2. Kualitas & kuantitas atlet baik rider dan kuda pada setiap 'event' selalu meningkat.
3. Persaingan & kompetisi semakin hari semakin tajam, setiap kemenangan selalu dicapai dengan kerja keras, persaingan yang ketat dengan nilai yang sangat tipis diantara peserta.
4. Persaingan & kompetisi menjadi ajang pertunjukan yang bermutu, mengasyikan dinikmati oleh masyarakat, bahkan untuk masyarakat umum, yang secara positif akan menarik minat untuk mengenal equestrian. Ini akan membuat semakin meluasnya kecintaan pada equestrian dikalangan masyarakat umum yang sebelumnya awam dengan olahraga ini.
5. Kegiatan pembinaan yang rutin dengan kompetisi yang ketat, menghasilkan prestasi yang terukur yang meningkat pada setiap 'event', yang oleh karenanya atlet selalu dalam kondisiiap fisik maupun mental, mereka akan selalu siap pada setiap 'event', karena rutinitas latihan yang dilakukan memiliki suatu 'event' yang jelas untuk mengaplikasikannya, sehingga program pelatihan di setiap klub maupun daerah dapat disusun dengan terjadwal dan jelas.
6. Semua yang terlibat langsung dalam olahraga equestrian hari demi hari terlihat antusias, kuda yang terlihat sehat dan mengkilat, atlet 'happy' serta kompetitif namun bergaul akrab diantara mereka. Staf pendukung seperti pelatih, manajer, 'groom', semuanya juga terlihat bersemangat, gesit dan penuh pengabdian.
7. Ada yang sinis mengatakan bahwa Eqina dan Pordasi hanya mengelola equestrian tingkat Kelurahan. Saya tegaskan, jangan kecil hati!!!! Karena kita telah membuktikan, bahwa pada kelas-kelas international persaingan atlet atlet Eqina sangat ketat, tajam dengan diikuti oleh banyak peserta, sangat Enak dinikma. Penampilan mereka sangat dinikmati oleh masyarakat. Bandingkan dengan kompetisi mereka yang sinis, mengaku tingkat international, akan tetapi ternyata hanya diikuti atlet dari hitungan jari satu tangan! Di mana nilai kompetisinya? Namun demikian, kita jangan ikut-ikutan mencela! Bahkan, kita tunjukan jiwa besar Eqina-Pordasi dengan selalu membuka tangan untuk menerima siapapun bergabung dengan Eqina Pordasi.
8. Tuhan akan selalu bersama umat-Nya, yang jujur dan mencintai pekerjaan, kerja keras serta selalu bersyukur atas segala nikmat-Nya.
9. Maju terus Eqina dan Pordasi demi pengabdian bagi olahraga berkuda, bangsa dan negara tercinta Indonesia. Jangan terlena dengan apa yang dinikmati saat ini, tetap bersyukur dan selalu bekerja keras untuk Persatuan Equestrian Indonesia. Kita bisa !!!
* Penulis adalah pencinta dan pemerhati olahraga
Baca tanpa iklan