Penulis: Richard Susilo
Koordinator Japan-Indonesia Economic Forum (JIEF) berdomisili di Tokyo hampir 25 tahun
MINGGU lalu selama dua hari, Kamis (26/6/2015) dan Jumat (27/6/2015) penulis ke Fukushima dekat PLTN Fukushima, tepatnya sekitar Soma, Minami Soma dan Namie dengan penduduk masing-masing kota sekitar 65.000 jiwa. Mau tahu seberapa jauh perkembangan pembaharuan dan perbaikan gempa dan tsunami (bencana alam) serta dampak ledakan nuklir PLTN Fukushima yang dioperasikan oleh Tepco Co.Ltd, lembaga pembangkit listrik Tokyo.
Kaget luar biasa di luar dugaan dan tidak mencerminkan manisnya laporan yang ada di koran-koran besar Jepang selama ini.
Lebih parah lagi 27 Juni 2015 sebuah koran lokal Fukushima Minpo memuat berita sebagai judul utama halaman pertamanya, 800 orang meninggal para pekerja PLTN Fukushima, yang ternyata selama ini disembunyikan.
Baca: 800 Orang Diam-diam Tewas Terdampak Radiasi Nuklir di Jepang
Pengalaman di lokasi Fukushima dan berita lokal setempat sudah menjadi bukti kuat, betapa empat tahun berjalan bencana alam, tetapi gara-gara ledakan nuklir PLTN Fukushima, maka rakyat setempat menderita seumur hidup.
Kota yang sangat indah, benar-benar sangat indah, lingkungan alam yang sejuk, asri, nyaman, tak akan bisa diapa-apakan lagi selama sedikitnya 30 tahun. Mengapa? Karena dampak radiasi ledakan nuklir PLTN Fukushima 11 Maret 2011 sampai sekarang dan puluhan tahun mendatang masih kuat.
Semua itu mengkontaminasi tanah, pohon, air dan segalanya di sana, sehingga radiasi menjadi tinggi.
Penulis melihat sendiri dan memotret sebagai bukti, daerah jalan raya yang masih be-radiasi 5,1 mikro sievert per jam. Artinya lebih dari 100 kali lebih besar dari normal yang seharusnya hanya 0,05 mikro sievert per jam. Keterlaluan sekali.
Tak heran kalau ratusan pekerja banyak yang meninggal gara-gara terkontaminasi radiasi tinggi tersebut.
Dari 63.152 jiwa yang tinggal di Minami Soma, Sabtu pagi saat ikut Misa Gereja Katolik, hanya 5 orang termasuk pastornya yang menyajikan misa pagi tersebut. Ke mana yang lain? Penduduk setempat yang ikut misa itu mengatakan, "Pindah tempat tinggal dan tak mau kembali karena merasa terancam kehidupannya oleh radiasi yang masih tinggi."
Seorang suster, Kepala CTVC Caritas Haramachi Base, Minami Soma Perfektur Fukushima, Hatanaka Chiaki, kepada penulis juga menjelaskan, "Tak ada yang mau kembali tampaknya ke sini karena takut dengan radiasi yang masih tinggi sampai puluhan tahun pastinya. Anak-anak yang kecil pun yang masih ada di sini, ibunya bingung terus terang. Mau dipindahkan ke luar kota ini apa tidak. Akibatnya jumlah murid sekolah pun juga menjadi sangat sedikit di sini dan yang bertahan karena memang sangat cinta kepada kampung halamannya, merasa terpaksa saja," paparnya.
Tanah yang ada praktis tak bisa diapa-apakan karena radiasi pasti menyerap sampai ke dalam tanah beberapa meter, tak bisa dibuat sawah, tak bisa dibuat perkebunan, tak bisa diolah lagi. Sapi pun tak ada lagi, dilepas bebas, karena rakyat setempat tak tega membunuhnya. Akhirnya mati sendiri karena tak ada makanan, tak ada yang merawat dan semua rumput terkontaminasi radiasi tinggi.
Jepang yang katanya negara teliti, pekerja keras, semua penuh perhitungan, sangat baik dalam kontrol, keamanan, pengelolaan dan sebagainya, ternyata "jebol" juga dengan ledakan nuklirnya tersebut.
Setelah meledak, masih ditutup-tutupi dengan kebohongan Direksi Tepco sehingga semua mengundurkan diri dan kini Direksi baru semuanya.
Belum cukup dengan Direksi baru, ternyata terungkap data 800 orang meninggal korban radiasi, akhirnya terbongkar. Tetapi koran dan media besar Jepang tidak mengungkapkan hingga kini.
Mengapa media Jepang yang besar "mandul" tak berani mengungkapkan semua kebobrokan Tepco tersebut? Karena berita yang jelek akan berakibat tidak pasang iklan. Akibatnya pers Jepang tak dapat uang, penghasilan sangat besar berkurang. Per bulan bisa berkurang puluhan bahkan bisa berkurang sedikitnya 100 juta yen.
Siapa yang mau berisiko kekurangan gaji dengan kekurangan pendapatan ratusan juta yen per bulan itu?
Akibatnya pers Jepang yang besar saat ini menjadi benar-benar mandul. Hanya memuat berita yang bagus saja. Yang kurang baik hanya sedikit dan bisa diabaikan dan mengacu kepada hasil keputusan pengadilan saja supaya tidak disalahkan. Supaya kelihatan tetap balance, imbang. Padahal sesungguhnya mandul semua media besar Jepang.
Mereka menggantikan jiwa tiap penduduk Fukushima yang menderita saat ini dengan pemasukan uang yang tetap diharapkan dari iklan Tepco. Sangat keterlaluan memang!
Inilah Jepang yang asli, yang tak pernah terungkap oleh pers Jepang besar.
Penulis hanya berdoa, Ya Allah, semoga Indonesia tidak pernah membuka PLTN kapan pun sampai kiamat datang.
Penderitaan manusia sangat besar karena nuklir. Chernobyl di Rusia masih terasa sekali, ledakan nuklir Fukushima sudah 4 tahun, saat ini, detik ini, masyarakatnya masih menderita. Wajah mereka masih penuh kesedihan. Hidup di penampungan dan masa depan yang tidak jelas, bingung, tak heran tidak sedikit yang bunuh diri pula karena stres.
Satu niatan penulis, kalau sampai pemerintah Indonesia berkeinginan membuka PLTN, tolonglah panggil penulis, akan penulis ceritakan semua, bersaksi apa yang dilihat langsung di Fukushima saat ini, setelah lebih dari 4 tahun ledakan nuklir di Fukushima. Penulis akan berdiri di barisan paling depan menentang nuklir di Indonesia.
Mudah-mudahan Tuhan masih bisa membukakan hati para pimpinan Indonesia dan mengalihkan pikiran mereka agar tidak lagi terpikirkan untuk membuat PLTN di bumi tercinta Nusantara ini.
Baca tanpa iklan