TRIBUNNERS - “Murid zaman sekarang beda dengan zaman dulu. Zaman dulu murid senang belajar. Sekarang malah pada asik pacaran sampai pada mesum."
Hal itu diucapkan oleh seorang teman yang berprofesi sebagai guru, yang miris dengan perilaku murid zaman sekarang.
Dunia percintaan memang manusiawi antara lawan jenis. Akan tetapi percintaan dini yang dimulai sejak masih SMP atau SMA dianggap sangat miris.
Usia masa-masa itu seharusnya fokus dengan belajar yang rajin.
Apabila seorang siswa dan siswi sudah terlibat dengan dunia percintaan, maka pikiran jernih mereka yang seharusnya digunakan untuk belajar berfikir menjadi keruh.
Orang yang sudah merasakan cinta lawan jenis biasanya dirundung dengan rasa kangen. Apalagi hubungan ini dilakukan jarak jauh.
Rasa kangen terhadap pacar dapat membuat pikiran siswa-siswi tidak pernah ingat tujuan untuk belajar di sekolah.
Tujuannya bila sudah berada di sekolah selalu ingin bersama dengan pacar.
Dan bahkan bila sudah pulang sekolah, tidak jarang mereka bepergian bersama untuk menikmati udara sore hingga pulang ke rumah malam hari.
Menurut teman saya “orang tua harus curiga umpamanya anaknya sering pulang malam-malam. Soalnya anak sekolah kalau pulang pergi biasanya bermain dengan pacaran”.
Orangtua yang melihat anaknya kerap pulang larut malam, harus waspada terhadap aktivitas anaknya. Orang tua berkewajiban mencari tahu kegiatan sekolah, apakah ada ekstrakurikuler sampai malam atau jam berapa? Apabila memang ada, satu minggu berapa kali?
Hal ini bertujuan mencegah anak dari tindak berbahaya.
Pasalnya bila anak sudah menjalin percintaan, mereka akan memanfaatkan waktu luang untuk bermadu kasih dengan sang pacar.
Memadu kasih dengan sang pacar kerap dilakukan pada tempat-tempat yang sepi.
Tempat itu bisa saja di tepi pantai, hutan, kebun, rumah tua, dan juga kos-kosan kerap kali dimanfaatkan untuk berbuat mesum.
Tidak sedikit petugas keamanan mendapatkan pasangan mesum masih berstatus pelajar.
Dan mengerikan lagi, adegan dengan sang pacar justru mereka rekam sendiri, baik itu adegan kissing, petting, atau hubungan intim.
Setelah mereka merekamnya, terkadang video atau gambar dishare di internet tanpa ada rasa malu maupun salah sama sekali.
Kenyataan ini sebenarnya siapa yang harus disalahkan? Apakah ini kesalahan dari pihak sekolah dan guru? Atau kesalahan ini dari orang tua? Atau memang tidak perlu ada yang disalahkan karena memang sudah masanya siswa-siswi berbuat seperti itu.
Guru dan sekolah tidak mungkin mampu mengendalikan murid-muridnya selama 24 jam penuh. Kewajiban mereka untuk mengawasi para murid hanya pada lingkungan sekolah.
Di luar wilayah itu, tanggung jawab sudah berpindah ke orangtua. Sedangkan orangtua juga tak mungkin membuntuti anaknya kemana-mana.
Kebanyakan orang tua sibuk dengan pekerjaannya. Mereka selalu berpikir positif terhadap anak karena sudah dididik di sekolah dengan nilai dan moral.
Sehingga orang tua sudah merasa yakin kelak anaknya akan berbuat baik dan tidak akan melakukan hal-hal yang melanggar norma dan hukum.
Sekali lagi, guru maupun orang tua pada zaman sekarang ini sungguh tak mampu untuk menjaga anaknya dari pergaulan bebas.
Hal yang perlu dilakukan guru hanya sebatas memberi pengertian dan kontrol sewaktu-waktu pada muridnya.
Sedangkan yang perlu dilakukan orang adalah mencurigai aktivitas anak yang mencurigakan, seperti pulang sekolah terlalu sore atau malam hari. Jika pulang petang dibiarkan begitu saja, hal ini sangat membahayakan.
Barangkali orangtua dan guru tidak akan mampu melawan media sosial dan tekhnologi komunikasi. Perkembangan kedua itu sungguh sangat massif mempengaruhi kehidupan seseorang masa kini.
Mereka bisa berkomunikasi dengan mudah tanpa ada yang mengetahui.
Pada akhirnya, janjian jalan-jalan, janjian ketemuan, janjian apa saja kerap dilakukan lewat model ini. Dan guru maupun orang tua saya jamin tidak akan mampu mendeteksi lewat tekhnologi canggih ini. Apalagi banyak orang tua yang gaptek.
Maka berkat pergaulan bebas tersebut, banyak siswa-siswi putus sekolah gara-gara harus menjadi orang tua lebih dini. Masa depan yang seharusnya cerah menjadi buram gara-gara tak kuasa mengendalikan hasrat seksual.
Soalnya tindak asusila sudah dianggap sebagai hal yang lumrah oleh masyrakat. Tindakan itu apabila sudah terjadi, tak pernah ada sanksi berat.
Masyarakat hanya gaduh pada saat pertama kali mendengar saja, setelah itu suasana kembali normal kembali. Pada akhirnya tindakan yang demikian ini ditiru oleh orang lain dengan melakukan perbuatan yang sama.
Baca tanpa iklan