Metode pelatihan yang dilaksanakan bukan sekedar pelatihan biasa, tetapi diharapkan dapat menghasilkan suatu perubahan mind-set dan transformasi di tingkat individu, organisasi, maupun sistem secara luas.
“Revolusi mental untuk membentuk karakter kepemimpinan yang kuat tidak hanya diberikan dengan mengajarkan sifat-sifat mental yang baik, tetapi juga dengan menempatkan diri pemimpin dalam posisi dapat mendengar, merasakan, membuka pemikiran dan dapat mendorong aksi kolektif yang lebih bermakna,” ucap Agus Widjojo, Ketua Lemhanas.
“Metode pembelajaran sangat fleksibel sehingga bisa diterapkan pada sektor atau fokus isu apapun karena substansi pembelajaran dalam program ini adalah mengajak peserta untuk berpikir terbuka, hadir utuh dan sadar penuh dalam setiap kegiatan yang dilakukan, dan sebagai pemimpin harus rajin sensing atau blusukan sehingga peka terhadap isu ril di lapangan,” sambung Mari Elka Pangestu, Ketua Yayasan Upaya Indonesia Damai.
Baca tanpa iklan