News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Tribunners

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email: redaksi@tribunnews.com.

Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Pilpres 2019

Menang Ojo Umuk, Kalah Ojo Ngamuk

Editor: Hasanudin Aco
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Sumaryoto Padmodiningrat.

Sebagai catatan, Pemilu 2019 ini cukup ruwet. Ada 5 surat suara yang harus dicoblos pemilih, yakni Presiden RI, DPR RI, DPD RI, DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota. Tahun 2024 akan lebih ruwet lagi, karena pilkada juga akan digabungkan dengan pileg dan pilpres, sehingga akan ada 7 surat suara, atau ditambah dua untuk pemilihan gubernur dan bupati/walikota.

Hal ini bisa mengurangi kulitas pemilu. Sebab itu, ada baiknya para petinggi parpol berpikir ulang untuk memisahkan kembali pemilu eksekutif (presiden/gubernur/bupati/walikota) dengan pemilu legislatif (DPR RI, DPD RI, DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota).

Perlu pula dipikirkan soal anggaran. Pemilu 2019 ini menelan anggaran Rp 25,5 triliun, bagaimana dengan Pemilu 2024 yang akan lebih kompleks? Itu baru biaya terukur, antara lain untuk KPU dan KPUD di 34 provinsi dan 562 kabupaten/kota, serta cetak surat suara dan alat peraga kampanye.

Namun ada biaya yang tak terukur atau unlimited yang jauh lebih besar, termasuk money politics atau serangan fajar. Operasi tangkap tangan yang dilakukan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap para politisi menjelang pemilu membuktikan bahwa pemilu butuh biaya besar. Apalagoi ada ungkapan, “jer basuki mawa bea” (bila mau sukses maka harus ada biaya). 

Drs H Sumaryoto Padmodiningrat MM: Mantan  Anggota DPR RI / Chief Executive Officer (CEO) Konsultan dan Survei Indonesia (KSI), Jakarta.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini