Karenanya, rakyat kecil dan arus bawah harus ikut jejak para pemimpin, dalam menyatukan seluruh perbedaan di tingkat akar rumput.
Perjumpaan PBNU dan FPI adalah simbol awal, sebuah rintisan, yang perlu diuji coba dan diperjuangkan, bahwa putra-putra bangsa tidak saja mampu bersatu di kalangan elite, melainkan kelas sosial akar rumput juga bisa bersatu.
Namun, ini belum selesai. Berikutnya, adalah persatuan antara rakyat kecil dengan penguasa. Yang dalam khazanah leluhur kita disebut: "manunggaling kawula lan gusti". Yakni, persatuan antara kepentingan penguasa dan rakyat kecil.
Jokowi dan Prabowo bersatu. NU dan FPI bersatu. Selangkah lagi, penguasa dan rakyat bersatu.
Apabila ini semua tercapai, tanpa dibayang-bayangi keretakan hanya gara-gara tidak dapat jatah kekuasaan dan urusan perut lainnya, maka insya Allah, arwah pahlawan kita yang gugur di medan tempur akan tersenyum bangga. Mereka melihat generasi penerusnya mampu menerjemahkan makna Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa!.
*Penulis adalah alumni Universitas Al-Azhar, Mesir; Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon; Wakil Ketua Pimpinan Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah (Asosiasi Pondok Pesantren se-Indonesia); Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Periode 2010-2015.
Baca tanpa iklan