News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Tribunners

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email: redaksi@tribunnews.com.

Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Gajah di Pelupuk Mata yang Tak Tampak

Editor: Hasanudin Aco
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Suhendra Hadikuntono.

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pegiat media sosial Rudi S Kamri berkesempatan makan siang dan berbincang banyak hal dengan sosok yang baru ia kenal.

Namanya Suhendra Hadikuntono, seorang pria sederhana dan rendah hati, suami tercinta dari sahabatnya, Kezia Kharisma.

"Berbincang panjang lebar dengan beliau tentang sepak bola dan masalah kebangsaan, membuat saya terpaku dan tercenung. Kok, masih ada sosok seperti ini di Indonesia, ya?" kata Rudi S Kamri di Jakarta, Jumat (3/7/2020).
 
Kesan Rudi tentang Suhendra adalah manusia langka yang sudah selesai dengan dirinya sendiri.

"Tidak ada ambisi apa pun. Beliau hanya ingin berbuat sesuatu untuk negeri tercintanya. Dengan kecukupan materi yang dimilikinya saat ini, Suhendra hanya ingin menghabiskan sisa umurnya untuk mengabdi buat bangsa dan negara," kata Rudi.

Baca: Jokowi Diharapkan Bertindak Lanjut Setelah Ancam Reshuffle Menteri

 
Siapa sosok Suhendra? Pria lulusan University Kebangsaan, Malaysia, ini menurut Rudi adalah pemilik beberapa perusahaan multinasional yang bernaung dalam bendera Indo Sarana Prima Group yang bergerak di bidang security, parking, fumigasi, plantation, furniture, dan PT Indo Cetta Prima, salah satu perusahaan “unicorn” di Indonesia. 
 
Pria santun kelahiran Medan, Sumatera Utara, 50 tahun lalu itu dinilai Rudi sengaja menghindari sorotan media massa dalam setiap aktivitasnya.

"Dia selalu bekerja dan berkarya dalam senyap. Tapi apa yang telah dilakukan untuk negeri ini membuat saya geleng-geleng kepala. Mari kita simak beberapa kisahnya," jelas Rudi.
 
Mencegah Pemerintah Indonesia Diadili di Mahkamah Internasional
 
Menurut Rudi, kisah keterlibatan Suhendra dalam kasus ini bermula saat dimintai tolong oleh sahabatnya, Duta Besar Vietnam untuk Indonesia pada akhir 2013.

Pemerintah Vietnam protes keras kepada Pemerintah Indonesia atas ditahannya 90 warga negara Vietnam di Kepulauan Anambas yang tertangkap mencuri ikan di perairan Indonesia. 
 
Protes keras dari Vietnam bukan untuk membela warganya yang melakukan pencurian ikan, tapi ternyata 90 orang tersebut telah ditahan oleh otoritas keamanan Indonesia selama setahun tanpa proses hukum. Selama setahun itu mereka diperlakukan tidak manusiawi.

Mereka dipaksa kerja keras tanpa dikasih makan yang layak bahkan tanpa dibayar sepeser pun. Kondisi mereka benar- benar mengenaskan. Bahkan ada yang sakit jiwa karenanya. Mereka benar-benar diperlakukan seperti budak.
 
Kejadian ini memicu gelombang protes di Vietnam. Bahkan konon ada demonstrasi besar-besaran di Vietnam sampai konsulat RI di Ho Chi Min dibakar massa. "Peristiwa ini sengaja ditutupi pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada waktu itu, karena akan mempermalukan bangsa dan negara Indonesia.

Atas usaha keras melalui lobi-lobi dengan Pemerintah RI, akhirnya Suhendra berhasil memulangkan 90 orang warga Vietnam tersebut dengan biaya dari kantong sendiri. Semua dilakukan dengan "sillence operation", tanpa terendus media nasional maupun internasional.

Tujuannya agar Indonesia terhindar dari tuduhan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) berat. Suhendra telah bekerja keras dalam senyap untuk menyelamatkan kehormatan negara," papar Rudi.
 
Demo Perangkat Desa yang Berpotensi Chaos
 
Beberapa bulan setelah Joko Widodo menjabat Presiden RI tahun 2014, kata Rudi, ratusan ribu perangkat desa dari seluruh Indonesia datang ke Jakarta, menggeruduk Istana Merdeka.

Tujuan mereka menagih janji Jokowi saat kampanye bahwa perangkat desa akan diangkat menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN). Tapi ternyata janji Jokowi tidak kunjung direalisasikan oleh Menteri Dalam Negeri dengan berbagai alasan. Mengamuklah mereka. 
 
Dalam demonstrasi tersebut, tidak satu pun aparat Kemendagri dan Mendagri (saat itu) Tjahjo Kumolo yang berani menghadapi para demonstran.

"Akhirnya, Suhendra yang saat itu menjabat Penasihat Persatuan Perangkat Desa Indonesia (PPDI) turun tangan, pasang badan berjibaku menenangkan para demonstran yang sudah mengancam akan membuat kerusuhan. Masalah pun teratasi dengan baik. Mendagri Tjahjo Kumolo mendapat pujian dan tepuk tangan dari media, sedangkan Suhendra kembali ke dunianya yang sepi," cetus Rudi.
 
Membagi Sertifikat Tanah Warga
 
Seperti biasa, setiap Presiden Jokowi berkunjung ke daerah selalu membagikan sertifikat tanah gratis kepada masyarakat. Hal itu juga dilakukan Presiden Jokowi pada 2018 di Kabupaten Langkat, Sumatera Utara.

Presiden membagi-bagikan sertifikat secara gratis kepada warga Langkat, dan tentu saja warga bahagia tiada tara mendapatkan sertifikat tanah gratis. Seperti biasa pula, Presiden Jokowi juga membagi-bagikan sepeda waktu itu.
 
Lalu, apa yang terjadi setelah Presiden Jokowi kembali ke Jakarta? Seluruh sertifikat tanah tersebut ditarik kembali oleh perangkat desa atas perintah Bupati Langkat.

Bagi warga yang mau mengambil sertifikat tersebut harus menebus dengan uang 3 sampa 5 juta rupiah. Sungguh tak beradab kelakuan oknum aparat pemerintah daerah tersebut, dan hal ini tentu saja tak pernah diketahui Jokowi.
 
"Atas jeritan rakyat kecil itu, Suhendra yang dibantu tim kecilnya bergerilya ke beberapa desa di pelosok Kabupaten Langkat. Beliau mengambil kembali 1.700 sertifikat yang merupakan hak rakyat tersebut. Usaha dari Suhendra tentu saja mendapatkan perlawanan keras dari aparat desa dan kecamatan.

Namun singkat cerita berkat kegigihannya akhirnya Suhendra berhasil menarik kembali ribuan sertifikat tanah tersebut dari aparat desa dan mengembalikan kepada rakyat. Peristiwa ini juga luput dari pemberitaan media nasional," cetusnya.
 
Pada saat Rudi tanya, apa motivasi Suhendra sehingga melakukan hal itu? "Jawabnya, 'Saya hanya ingin menyelamatkan nama baik Pak Jokowi yang telah berniat baik, tapi ‘digergaji’ oleh anak buahnya di level bawah. Mak Jleb!" kenang Rudi mengisahkan.
 
Melawan Mafia Sepak Bola Indonesia

Halaman
12
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini