News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Tribunners

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email: redaksi@tribunnews.com.

Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Tiga Jurus Jitu Menghadapi Covid-19

Editor: Setya Krisna Sumarga
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Doni Monardo - Ketua Satgas Penanganan Covid-19

Tidak satu pun terpapar corona, dan dipulangkan ke rumah masing-masing dengan bekal surat keterangan bebas Covid-19, serta buah tangan berupa backpack (ransel) serta uang transport Rp 1 juta per orang.

Meme panduan praktis hadapi pandemi virus Corona yang dibuat BNPB atas perintah Letjen TNI Doni Monardo.

Jurus Dijalankan Dalam Satu Tarikan Napas 

Point dari semua jurus ampuh melawan Covid-19 di atas adalah “satu-tarikan-napas”. Iman-aman-imun harus paralel dijalankan secara simultan. Bersama-sama seperti kita menghirup udara saat bernapas.

Nah, kembali ke urusan kata aman, Muhammad Qodari, peneliti Indo Barometer yang mengusulkan kepada Doni agar "urusan iman aman imun" ditambahkan kata wajib.

Pakai masker tak cukup disampaikan sebagai sesuatu yang penting, namun harus di tambahkan kata wajib memakai masker.

Demikian juga wajib jaga jarak, wajib cuci tangan. Selanjutnya 3M berubah menjadi 3W (Tiga Wajib). Apalagi memang 3 M sebelumnya sudah pernah populer masyarakat: identik dengan gerakan  anti nyamuk malaria: Menguras, Menutup, Mengubur.

Dus, semua itu, tidak akan berfungsi maksimal kalau perut kosong. Katakan pula, semua syarat tadi terpenuhi, tidak akan produktif kalau kehilangan kegembiraan, stres, kurang olahraga dan rajin begadang. Karenanya urusan ini pun juga ditambahkan kata wajib.

Contoh paling sederhana, kaum berada yang mampu mencukupi nutrisinya dengan makan steak, salad, dan lain-lain. Dia tetap saja rentan, manakala dalam tata pergaulan mengabaikan protokol kesehatan.

Contoh lain yang lebih konkret adalah sejumlah negara maju dan berpenghasilan ekonomi papan atas (dengan kasus corona tinggi). Di sana, persoalan nutrisi rendah relatif minim.

Minim pula persoalan dengan urusan perut. Mengapa angka covid-19 tinggi? Lebih karena kebiasaan mereka hang-out, bergerombol dan mengabaikan protokol kesehatan.

Contoh lebih dekat di Jakarta. Kenapa banyak klaster baru di perkantoran? Sederhana saja penjelasannya.

Banyak kaum pekerja berangkat subuh pulang malam. Di kantor berada pada ruang ber-AC. Stres dengan pekerjaan.

Makan terkadang pesan junk food secara daring. Pulang malam sudah letih, terkadang masih harus menyelesaikan pekerjaan kantor atau problem lain di rumah.

Tidak sempat olahraga. Tentu saja, tipikal seperti ini rentan terpapar virus. Apalagi yang berangkat-pulang mayoritas menggunakan kendaraan umum.

Sungguh berbeda dengan Doni Monardo. Kebetulan berlatarbelakang prajurit Kopassus. Hidup disiplin, termasuk dalam hal olahraga, dipraktikkan sebagai sebuah habbit atau kebiasaan.

Halaman
1234
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini