News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Tribunners

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email: redaksi@tribunnews.com.

Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Harga Pertamax Meroket, Mengapa Solar dan Pertalite Langka?

Editor: Choirul Arifin
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Antrean pembelian Pertalite mengular di SPBU Tanjungkarang Bandar Lampung, pasca pengumuman kenaikan harga Pertamax mulai 1 April 2022.

Untuk diketahui, hingga 31 Maret 2022, utang Pemerintah kepada Pertamina mungkin sudah mencapai sekitar Rp 140 triliun, yaitu untuk talangan BBM jenis minyak tanah, solar, premium, Pertalite dan LPG 3 kg.

Sayangnya, di APBN 2022 subsidi yang dianggarkan hanya untuk minyak tanah, solar dan LPG 3 kg.

Itupun dengan asumsi patokan harga minyak mentah USD 63 per barel, namun sudah berjalan sekitar 3 bulan ini harga minyak mentah dunia rata rata diatas USD 110 per barel.

Maka itu, dapat dipahami begitu runyamnya kondisi cash flow Pertamina saat ini.

Di sisi lain, Pertamina setiap hari membutuhkan uang kontan yang banyak untuk bisa membeli dollar agar bisa beli lagi minyak mentah dan BBM setiap harinya sebanyak 900.000 barel dari trader maupun NOC luar negeri untuk mengamankan stok BBM nasional selama 21 hari.

Minyak mentah milik Pertamina dan milik negara dari produksi minyak dalam negara hanya sekitar 500.000 barel per hari, selebihnya minyak itu milik KKKS.

Jadi, setidaknya PT Pertamina Kilang Internasional dan PT Pertamina Patra Niaga setiap hari harus ada sekitar USD 150 juta atau setara Rp 2, 2 trilun untuk belanja minyak mentah dan HOMC 92 (High Octan Mogas Component) serta BBM untuk mengamankan pasokan dalam negeri, baik untuk membayar kepada trader, Pertamina Hulu Energi dan negara maupun KKKS lainnya.

Karena, saat ini infonya kilang Balongan lagi shutdowm (berhenti produksi) akibat kegiatan TA ( Turn Around) atau perawatan skala besar yang terencana sejak Maret 2022.

Melihat realitas kondisi tersebut, Menko Marinves Luhut Binsar Panjaitan hari Jum'at (1/4/2022) kemarin langsung menyatakan bahwa "Pemerintah OTW akan menyesuaikan harga jual Pertalite, LPG 3 kg secara bertahap, mulai Juli dan September tahun ini."

Untuk menjawab protes konsumen terhadap kelangkaan Biosolar dan Pertalite dari berbagai SPBU di daerah, jawaban Petugas SPBU dan Pjs Corporate Secretary PT Pertamina Patra Niaga Irto Ginting, tampak kompak menyatakan bahwa Biosolar dan Pertalite OTW (On The Way) alias dalam perjalanan dan stok aman.

Tapi tidak jelas berapa jam bisa sampainya, sehingga hal itulah membuat antrian kenderaan mengular panjang diberbagai SPBU daerah adalah pemandangan yang nyata.

Tapi lucunya, Dirut Pertamina Nicke Widyawati ketika kunjungan kerja ke Jambi pada hari Sabtu 2/4/2022, langsung menyaksikan sendiri terjadi antrian mengular di beberapa SPBU.

Dalam wawancara Nicke dengan supir truk batubara, Nicke malah menyuruh pemilik SPBU untuk menambah dispenser agar bisa mengurai antrian panjang itu.

Padahal, persoalan utama penyebab antrian panjang, akibat lamanya pengiriman Biosolar itu dari depo BBM ke SPBU, bisa mencapai 10 jam hingga 24 jam bahkan lebih meskipun lokasinya dekat dan jika harga minyak mentah dunia sedang murah.

Padahal, lama waktu antarnya sebenarnya hanya 1 sampai 2 jam paling lama, jadi bukan karena dispensernya di SPBU yang kurang.

Terlihat ada kepanikan dirut Pertamina ketika melihat kenyataan di lapangan berbeda dengan laporan di kantor pusat.

Ibarat kata, seperti orang yang kepalanya lagi pusing, tetapi dikasih obat sakit perut, ya nggak nyambung jeck.

* Penulis adalah Direktur Eksekutif CERI

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini