Oleh: dr. Wahyu Djatmiko, SpPD-KHOM
Departemen Ilmu Penyakit Dalam
Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto
TRIBUNNEWS.COM - Belum banyak yang mengetahui, menurut Global Burden of Cancer (GLOBOCAN) tahun 2020, kanker paru menduduki posisi kedua setelah kanker payudara, sebagai penyebab kanker terbanyak di dunia dengan perkiraan lebih dari 2 juta kasus baru per tahunnya.
Kanker paru juga merupakan penyakit yang paling mematikan di dunia dengan perkiraan 1,8 juta kematian akibat kanker paru per tahun.
Penyakit ini mematikan karena sering kali pasien baru datang mencari pertolongan dokter pada stadium lanjut, yaitu setelah gejala memberat.
Hal ini bisa terjadi akibat gejala kanker paru pada stadium awal terkadang tidak jelas dan sulit dikenali karena mirip dengan gejala penyakit paru pada umumnya.
Beberapa gejala yang perlu diwaspadai adalah batuk yang tidak kunjung sembuh, sesak napas, nyeri dada, batuk darah, sulit menelan, penurunan berat badan yang tidak jelas penyebabnya dan suara serak.
Sebagian pasien ada juga yang mengeluhkan pembengkakan dan nyeri di daerah leher atau nyeri pada tulang rusuk dan punggung.
Sangat penting untuk segera memeriksakan diri ke dokter jika terdapat gejala-gejala tersebut terlebih jika pasien juga memiliki faktor risiko terkena kanker paru.
Paparan asap rokok merupakan faktor risiko tersering. Tidak hanya perokok aktif saja yang memiliki risiko terkena kanker paru.
Perokok pasif juga memiliki risiko yang sama. Rokok tembakau diperkirakan sebagai penyebab lebih dari 85 persen kasus kanker paru.
Paparan zat kimia berbahaya seperti debu asbestos, silika dan radon, polusi udara, riwayat penyakit paru kronik dan riwayat keluarga dengan kanker paru merupakan faktor risiko yang juga perlu diperhatikan.
Baca juga: Dokter Jelaskan Alasan Laki-laki Lebih Banyak Terkena Kanker Paru-Paru, Ini Penyebab Utamanya
Deteksi dini dan upaya pencegahan sangat penting. Diagnosis yang ditegakkan pada stadium awal akan meningkatkan peluang sembuh dan kesempatan untuk mendapatkan pengobatan yang lebih efektif.
Saat ini, tes skrining dengan mengunakan tomografi komputer cukup andal untuk menemukan kasus kanker paru pada stadium awal, terutama bagi mereka yang berisiko tinggi.
Prosedur diagnostik lainnya yang mungkin akan diprogramkan oleh dokter adalah foto thoraks, bronkoskopi dan prosedur biopsi serta beberapa pemeriksaan lain yang dipandang perlu.
Pengobatan kanker paru tergantung dari jenis kanker, stadium penyakit, dan kondisi umum pasien. Salah satu modalitas terapi terpenting adalah tindakan operasi.
Operasi terutama dilakukan pada kanker paru stadium awal untuk mengangkat jaringan yang terpapar kanker.
Selain operasi, modalitas lainnya adalah radio terapi, yaitu suatu metode dengan menggunakan sinar radiasi untuk menghancurkan sel-sel kanker.
Radioterapi dapat diberikan sebelum operasi atau setelah operasi tergantung dari kajian dokter yang menangani.
Kemoterapi juga masih menjadi pilihan dalam pengobatan kanker paru.
Pasien kanker paru stadium IV yang menjalani kemoterapi memiliki harapan hidup sampai dengan 10 bulan ke depan.
Sementara jika tidak diobati, angka harapan hidupnya diperkirakan hanya mencapai 3 bulan saja.
Kemoterapi merupakan metode pengobatan dengan memberikan zat kimia untuk mematikan pertumbuhan sel-sel kanker.
Kemoterapi dapat diberikan sebelum atau sesudah operasi dan dapat dikombinasikan dengan pemberian radioterapi untuk meningkatkan efektivitas pengobatan.
Saat ini, kemajuan di bidang kanker begitu pesat. Penelitian terkait perubahan molekuler mampu mengenali perubahan atau mutasi pada gen tertentu yang berperan terhadap kejadian kanker.
Penemuan ini, memungkinkan pengobatan semakin presisi dengan menggunakan terapi target yang sesuai. Beberapa obat terapi target yang saat ini beredar, tersedia dalam bentuk tablet.
Obat dalam sediaan ini sangat memudahkan pasien dalam mengonsumsi obat.
Di samping terapi target, saat ini juga sedang dikembangkan imunoterapi. Berbeda dengan modalitas yang lainnya, metode imunoterapi memanfaatkan sistem imun tubuh pasien untuk melawan sel-sel kanker.
Ada beberapa mekanisme imunoterapi. Pertama, adalah jenis penghambat checkpoint imun. Obat ini bekerja dengan cara menghambat protein yang menghalangi sistem kekebalan tubuh untuk menyerang sel kanker.
Berikutnya adalah terapi sel T. Terapi ini dilakukan dengan mengambil sel T pasien lantas dilakukan modifikasi genetik agar sel T tersebut mampu melawan sel-sel kanker, sebelum disuntikkan kembali ke dalam tubuh pasien.
Tipe berikutnya adalah vaksinasi kanker. Pada metode ini, respon imun tubuh dipacu dengan mengunakan vaksin yang diharapkan akan mengenali antigen spesifik yang ditemukan pada sel kanker.
Dalam pengelolaan kanker paru, sering kali menggunakan pendekatan terapi multimodal, yaitu dengan memberikan kombinasi dari beberapa metode terapi yang ada.
Deteksi dini, upaya pencegahan dan pilihan terapi yang tepat diharapkan akan meningkatkan harapan hidup dan kualitas hidup pasien. (*)
Baca tanpa iklan