Oleh: Hilarius S. Yance D., Mahsiswa Politeknik eLBajo Commodus Prodi Manajemen Pemasaran Internasional
Pendidikan merupakan kebutuhan dasar manusia (basic need), dan hak asasi manusia.
Paulo Freire (Hazim: 2012) menyatakan bahwa Pendidikan merupakan Upaya memanusiakan manusia (humanisasi).
Bertolak pada dasar berpikir Freire tentang Pendidikan, dapat disimpulkan bahwa Pendidikan menjadi aspek penting untuk membentuk manusia menjadi pribadi yang berguna untuk dirinya sendiri maupun bagi sesamanya.
Menyadari Pendidikan sebagai sebuah Upaya yang kompleks-kolektif, maka Lembaga Pendidikan hadir untuk menjadi wadah bagi proses Pendidikan itu sendiri.
Upaya ini kemudian dimatangkan dengan membentuk stakeholder bagi Lembaga Pendidikan yang terdiri dari Lembaga struktural (baca: Pengurus sekolah, tenaga pendidik, peserta didik hingga Masyarakat).
Elemen-elemen ini adalah subjek yang berinteraksi dalam lingkup Lembaga Pendidikan untuk mencapai titik tujuan Pendidikan itu sendiri (menjadi manusia yang berguna baik bagi diri sendiri maupun orang lain).
Kurikulum hadir sebagai instrumen yang menghantar semua pihak yang terlibat dalam humanisasi itu untuk mencapai tujuan yang disebutkan di atas.
(Arief Tandang) menggambarkan bahwa dewasa ini, kapitalisme mengubah logika pendidikan menjadi semacam logika pasar.
Berdirinya sekolah-sekolah tidak lagi dilihat sebagai pembacaan kebutuhan akan pendidikan, tetapi secara intensional mengarah kepada komersialisasi.
Pernyataan ini mengarah pada pemojokan Upaya para pemodal untuk menginvestasi modalnya di dunia Pendidikan demi mendapatkan keuntungan bisnis semata. Lembaga Pendidikan menjadi ladang transaksi, para pemilik modal menjual kompetensi, sedangkan peserta didik adalah pelanggan.
Kudeta terhadap tujuan awal Pendidikan (sebagaimana definisi Freire), menjadi tidak terhindarkan.
Komodifikasi Pendidikan
Perubahan Haluan Pendidikan dari usaha memanusiakan manusia menjadi sektor bisnis disebut sebagai komodifikasi.
Suatu kondisi Dimana objek yang pada awalnya tidak bernilai ekonomi dijadikan komoditas pasar.
Sayangnya, logika ini justru menjadi ladang kompetitif di antara para pemodal.
Stigma ini mengancam eksistensi Pendidikan secara total.
Baca tanpa iklan