News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Tribunners

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email: redaksi@tribunnews.com.

Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Kalau Malaysia Bisa, Kenapa Indonesia Tidak?

Editor: Suut Amdani
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

DOKTER GIGI INDONESIA - Dr. drg. Eka Erwansyah, MKes, SpOrt, SubSp.DDTK (K), Sekjen PB Persatuan Dokter Gigi Indonesia.

Oleh Dr. drg. Eka Erwansyah, MKes, SpOrt, SubSp.DDTK (K), Sekjen PB Persatuan Dokter Gigi Indonesia

BEBERAPA waktu lalu, publik dikejutkan sekaligus disadarkan oleh testimoni Tantowi Yahya, mantan Duta Besar RI untuk Selandia Baru. 

Dalam sebuah video yang beredar luas di media sosial, ia membagikan pengalamannya menjalani pemeriksaan kesehatan di Penang, Malaysia.

Dengan nada kagum, ia menyampaikan bahwa pelayanannya cepat, alatnya lengkap, dokternya komunikatif, dan—yang paling mencengangkan—biayanya terjangkau.

Apa yang dialami Tantowi Yahya sejatinya bukan hal baru. Setiap tahunnya, lebih dari 300.000 warga negara Indonesia memilih untuk berobat ke Malaysia, bahkan untuk tindakan medis yang sebetulnya tersedia di Indonesia.

Fenomena ini menunjukkan bahwa daya saing layanan kesehatan tidak cukup dibangun hanya dengan gedung modern atau alat canggih—tetapi juga melalui kesatuan visi antara negara, profesi, dan institusi pelayanan.

Bukan Soal Kemampuan, Tapi Kemauan

Indonesia tidak kekurangan dokter hebat. Rumah sakit besar kita juga banyak yang berstandar internasional. Namun, sistem pelayanan kesehatan kita masih tersandera oleh tiga masalah utama: birokrasi, distribusi, dan paradigma.

Pertama, birokrasi pelayanan masih rumit. Untuk bertemu spesialis, pasien harus melewati prosedur berjenjang, antre berhari-hari, dan sering kali harus kembali hanya untuk melihat hasil pemeriksaan.

Di Malaysia, pasien bisa langsung ke dokter spesialis, hasil pemeriksaan keluar di hari yang sama, dan konsultasi lanjutan pun segera dilakukan.

Kedua, distribusi layanan kesehatan yang timpang. RS besar dan dokter spesialis terkonsentrasi di kota-kota besar, sementara daerah lainnya kekurangan.

Sementara itu, Malaysia justru membangun rumah sakit swasta kelas dunia di kota-kota seperti Penang, Melaka, dan Johor Bahru—bukan hanya di Kuala Lumpur.

Ketiga, paradigma pelayanan yang belum bergeser. Di Malaysia, pasien diperlakukan sebagai tamu yang dihormati.

Pelayanan yang ramah, komunikatif, dan penuh empati menjadi standar, bukan pengecualian. Di Indonesia, keramahan dan kenyamanan pasien masih sangat bergantung pada individu tenaga kesehatan, bukan sistem.

Malaysia Menang Karena Sistem

Sejak 2009, Malaysia membentuk Malaysia Healthcare Travel Council (MHTC) untuk mengintegrasikan layanan wisata medis.

Pemerintah memberi insentif kepada rumah sakit swasta yang melayani pasien asing, menyederhanakan perizinan, dan mendorong pelayanan berbasis hospitality.

Halaman
123
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini