News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Tribunners

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email: redaksi@tribunnews.com.

Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Bullying dan Rumah yang Kehilangan Sentuhan Didik

Editor: Glery Lazuardi
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Prasetyo Nurhardjanto - Kampus berduka atas kematian Timothy. Tragedi ini menggugah pentingnya empati sejak dari rumah hingga ruang akademik.

Prasetyo Nurhardjanto

  • Dosen FEB Unika Atma Jaya, 
  • Pendamping BEM/BPM KM Unika Atma Jaya
  • VP International Catholic Movement for Intellectual and Cultural Affair (ICMICA Pax Romana) dan salah satu Presidium Pusat Ikatan Sarjana Katolik Indonesia (ISKA)
  • Saat ini berdomisili di Bekasi

“Kekerasan di kampus sering kali berakar dari ruang terkecil: rumah yang kehilangan kehangatan mendidik.”

Kematian Timothy Anugerah Saputra, mahasiswa Sosiologi Universitas Udayana, menyentak kesadaran kita semua. Ia meninggal dunia pada Rabu, 15 Oktober 2025, di lingkungan kampusnya sendiri. 

Dugaan kuat menyebutkan bahwa perundungan menjadi salah satu tekanan yang membuatnya terpojok. Tragedi ini bukan sekadar soal kehidupan kampus yang keras — tetapi tentang kegagalan lebih awal: pendidikan karakter di rumah.

Bullying tidak tumbuh tiba-tiba di universitas. Ia berakar dari nilai-nilai yang dibentuk sejak kecil: cara anak belajar memperlakukan orang lain, menyalurkan kemarahan, hingga mencari pengakuan. 

Ketika rumah kehilangan fungsi pendidikannya — terlalu sibuk, terlalu cuek, atau menormalisasi kekerasan verbal — kita menanam bibit manusia yang terbiasa menyakiti untuk merasa berkuasa.

Universitas memang harus mengambil peran tegas. Ia adalah tempat pembelajaran ilmiah, ruang untuk mengasah nalar dan berpikir kritis. Tapi kampus tidak bisa menggantikan peran keluarga dalam menanamkan empati. 

Sistem seperti Teman Aman – Kampus Bebas Bullying dapat menjadi saluran pelaporan dan dukungan psikologis, namun pencegahan sejati dimulai jauh sebelum mahasiswa duduk di bangku kuliah.

Meski demikian, jika perundungan akhirnya terjadi di lingkungan kampus, universitas tidak boleh ragu bersikap keras. Tidak ada ruang bagi pelaku bullying di kampus yang menjunjung martabat manusia. 

Sanksi akademis, bahkan hingga dikeluarkan dari universitas, adalah langkah moral yang harus diambil agar rantai kekerasan ini terputus. 

Ketegasan adalah bentuk kasih terhadap korban dan pesan bagi seluruh civitas bahwa kampus adalah ruang aman untuk tumbuh.

Kampus tetap memiliki tanggung jawab sosial untuk memperkuat karakter mahasiswanya. Salah satu ruang terbaik untuk itu adalah organisasi kemahasiswaan (ormawa). 

Di sana, mahasiswa belajar menghargai perbedaan dan melatih kepemimpinan yang beradab. Dengan pendamping ormawa yang intouch dengan kehidupan mahasiswa, universitas dapat memastikan dinamika sosial mereka tetap sehat dan inklusif.

Namun, mari kita sadari: kampus bukan lembaga rehabilitasi moral massal. Ia hanya bisa memperbaiki sebagian dari apa yang rusak sebelumnya. 

Pendidikan karakter paling mendasar tetap lahir dari keluarga — dari cara orang tua berbicara, memberi teladan, dan mencintai tanpa syarat. Jika rumah kembali hangat dan penuh teladan, ruang-ruang belajar di luar rumah pun akan ikut aman.

Tragedi Timothy Anugerah Saputra seharusnya tidak berakhir sebagai berita duka, tetapi sebagai cermin bagi setiap orang tua, pendidik, dan mahasiswa. Bahwa melawan bullying bukan hanya urusan kampus, melainkan tanggung jawab bersama membangun manusia yang utuh: berakal sehat, berhati lembut, dan berani berbuat baik.

“Bullying di kampus hanyalah cermin dari rumah yang lupa mengajarkan empati — dan kampus wajib memutus rantainya.”

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini