News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Tribunners

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email: redaksi@tribunnews.com.

Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Melawan Bullying dan Normalitas Kekerasan: Dari Solidaritas ke Empati

Editor: Glery Lazuardi
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Ilustrasi garis polisi

Bourdieu mungkin akan berkata bahwa kampus telah menjadi arena di mana modal simbolik prestise, organisasi, status diperebutkan dengan sengit. Dalam perebutan itu, nilai kemanusiaan sering terpinggirkan. Hal ini menunjukkan melemahnya integrasi sosial: universitas gagal menciptakan komunitas yang memberi makna bagi individu di dalamnya.

Arendt, dengan nada yang lebih lirih, akan mengingatkan, “Kejahatan menjadi mungkin ketika manusia berhenti berpikir.” Mungkin di sinilah titik paling genting, ketika kita membiarkan budaya saling menghina dan menindas tumbuh di lingkungan yang seharusnya menjadi ruang berpikir.

Dari Solidaritas ke Empati

Tragedi mahasiswa baru-baru ini seharusnya tidak hanya membuat kita berduka, tapi juga belajar. Bullying bukan masalah moral semata, tetapi masalah struktur sosial dan kesadaran kolektif. Ia menunjukkan bagaimana kekuasaan bisa bersembunyi di balik persaudaraan, dan bagaimana solidaritas tanpa empati bisa melahirkan kekerasan tanpa sadar.

Etika baru pendidikan mestinya dimulai dari keberanian untuk mengubah arah solidaritas: dari loyalitas kelompok menuju kepedulian antarindividu. Dari tradisi menekan menuju tradisi mendengarkan. Dari kebanggaan menjadi senior menuju tanggung jawab menjadi manusia.

Tragedi ini adalah cermin, dan seperti setiap cermin, ia memantulkan wajah kita sendiri.

Apakah kita masih percaya bahwa pembentukan karakter harus disertai penghinaan?

Bahwa loyalitas lahir dari ketakutan? Bahwa kuat berarti tega?

Mungkin sudah saatnya kita berhenti merayakan kekerasan yang disamarkan sebagai pembinaan, dan mulai membangun kampus sebagai ruang aman di mana berpikir dan berbelarasa tidak lagi dipisahkan. Karena sesungguhnya, hanya dengan berpikir dan berempati, pendidikan bisa kembali pada tugas dasarnya: memanusiakan manusia.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini