Muhammad Syarkawi Rauf
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Hasanuddin (Unhas)
Pernah Bekerja Sebagai Junior Advisor di United Nation Support Facility for Indonesia Recovery (UNSFIR) tahun 2003
Pernah Bekerja Sebagai Regional Chief Economist Bank Negara Indonesia (BNI) meliputi Sulawesi, Maluku, dan Papua tahun 2010 - 2023
Komisioner dan Ketua Komisi Pengawas Persaingan Usaha Republik Indonesia (KPPU RI) periode 2012 – 2018
Ekonom Keyu Jin, pemikir brilian berkewarganegaraan China, professor ekonomi dari London School of Economics (LSE) menulis buku berjudul ‘The New China Playbook, Beyond Socialism and Capitalism” yang terbit tahun 2024.
Dalam bukunya, Keyu Jin menyampaikan perbedaan pandangannya tentang pembangunan ekonomi China kepada pemikir-pemikir ekonomi di barat, termasuk kepada tiga pemenang nobel ekonomi tahun 2024, yaitu: Daron Acemoglu dan Simon Johnson dari Massachusetts Institute of Technology (MIT), USA, serta James A. Robinson dari University of Chicago, IL, USA.
Ketiga pemenang nobel ekonomi di atas berpandangan bahwa perbedaan negara terkebelakang dan maju terletak pada institusi ekonominya. Negara terkebelakang memiliki institusi yang bersifat ekstraktif, yaitu sistem ekonomi dan politik yang terpusat.
Sementara, negara kaya memiliki institusi yang inklusif, yaitu institusi yang demokratis sehingga memberikan manfaat kepada semua kelompok masyarakat. Di mana, pemimpinnya dipilih secara demokratis, menghargai kebebasan individu, menegakkan rule of law dan lainnya.
Ketiga pemenang nobel ekonomi tahun 2024 berpandangan bahwa pertumbuhan ekonomi negara dengan institusi ekonomi yang ekstraktif, hingga pada titik tertentu akan berhenti. Sama seperti China yang institusinya bersifat ekstraktif pada titik tertentu akan stagnan.
Keyu Jin menceritakan dalam bukunya bahwa pertanyaan paling banyak disampaikan kepadanya dari teman-teman sekelasnya di Harvard University, AS adalah “when will china become a democracy? How do you wake up in the morning knowing that you can’t elect your own president? When will china economy stop growing?”
Secara ekstrim, pemikir-pemikir Eropa dan AS berpandangan bahwa pembangunan ekonomi China akan gagal jika tidak mentransformasi ekonominya berdasarkan western value (nilai-nilai ekonomi barat), termasuk menyesuaikan dengan sistem ekonomi dan politik barat.
Namun, model pembangunan China tidak bisa dinilai dari sudut pandang kapitalisme dan sosialisme. Menurut Keyu Jin, model China lebih cocok disebut sebagai Marxisme yang bermetamorfosis sesuai dengan nilai-nilai dan budaya China.
Pembangunan ekonomi China dalam pemikiran Keyu Jin tidak sama dengan kapitalisme atau sosialisme. Model China lebih cocok disebut managed capitalism atau mayor economy. Dalam pandangan yang lebih luas, model China adalah kapitalisme dengan karakteristik nilai dan budaya China.
Secara umum, model free market economy dalam pembangunan ekonomi barat mengutamakan peran mekanisme pasar yang didominasi oleh private sector (swasta) dan konsumen. Sementara, pemerintah melalui instrumen kebijakan fiskal, moneter, dan pengaturan sistem keuangan berperan lebih kecil.
Baca tanpa iklan