News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Tribunners

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email: redaksi@tribunnews.com.

Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Bencana dari Atas Gunung: Pesan Tuhan dari Tanah Minang

Editor: Tiara Shelavie
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

TRIBUNNERS - Eka Erwansyah, Sekjen PB PDGI/ Pengarah Gugus Tugas PDGI Tanggap Bencana area Sumbar.

Bencana dari Atas Gunung: Pesan Tuhan dari Tanah Minang

Refleksi Religi dalam Misi Kemanusiaan PB PDGI

Oleh: Eka Erwansyah
Sekjen PB PDGI/ Pengarah Gugus Tugas PDGI Tanggap Bencana area Sumbar.

Bencana itu datang tanpa permisi.

Tiga provinsi di Sumatera — Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat — luluh lantak diterjang banjir paling parah dalam beberapa dekade terakhir. Ribuan jiwa meninggal dan hilang. Rumah hanyut, jembatan putus, keluarga tercerai. Luka itu bukan hanya milik mereka yang kehilangan, tetapi milik bangsa.

Di tengah suasana duka itu, Pengurus Besar Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PB PDGI) bergerak cepat. “Segera bentuk Gugus Tugas PDGI Tanggap Bencana Sumatera!” demikian instruksi Ketua Umum PB PDGI, drg. Usman Sumantri, MSc. 

Untuk Aceh dan Sumatera Utara, para pengurus teras PB PDGI sudah berada di lokasi, memimpin operasi kemanusiaan secara langsung.

Namun untuk Sumatera Barat, tidak ada satu pun pengurus teras PDGI di wilayah itu.
Maka tugas itu pun jatuh kepada saya.

Perjalanan Pagi Buta

Pagi buta, Kota Makassar masih terantuk dalam gelap saat saya melangkah ke bandara. Ada satu perasaan aneh ketika berangkat menuju daerah bencana: kita tahu kita akan melihat luka, namun tidak pernah tahu bentuk luka seperti apa yang akan ditampilkan dunia di hadapan kita.

Dalam pesawat menuju Padang, saya membayangkan daerah terdampak berada di lembah—daerah yang selama ini langganan banjir. Dalam pikiran sederhana saya, cerita bencana biasanya tidak jauh dari wilayah yang rendah, yang sulit mengalirkan air.

Butuh waktu sekitar 5 jam dari Makassar untuk sampai di lokasi bencana Sumatera Barat.

Pesawat mendarat pelan di Bandara Internasional Minangkabau. Dari kejauhan, kota itu terlihat tenang, seakan tidak sedang menanggung duka. Tetapi wajah bencana sering bersembunyi di balik ketenangan.

Percakapan dengan Sopir

Dalam perjalanan menuju hotel, sopir yang mengantar saya bercerita panjang.

Halaman
123
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini