News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Tribunners

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email: redaksi@tribunnews.com.

Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Jejak Sunyi di Atas Bukit: Refleksi Sejarah dari Benteng Otanaha

Editor: Glery Lazuardi
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Benteng Otanaha

Odemus Bei Witono

Direktur Perkumpulan Strada dan 

Pemerhati Pendidikan

Imam Jesuit 

Kandidat Doktor STF Driyarkara

Kolumnis

Cerpenis

Domisili di Jakarta 

​Perjalanan menyusuri jejak kolonial di Gorontalo membawa langkah saya menuju perbukitan di Kelurahan Dembe. Di sini, berdiri teguh tiga benteng yang menjadi saksi bisu ambisi bangsa Portugis di masa lampau: Benteng Otanaha, Otahiya, dan Ulupahu. Menaiki ratusan anak tangga untuk mencapai puncak bukan sekadar aktivitas fisik, melainkan sebuah ziarah waktu untuk memahami bagaimana pertahanan dibangun demi mengamankan jalur perdagangan rempah di wilayah utara Sulawesi.

​Setibanya di atas, mata segera disuguhi panorama luas yang memikat sekaligus memilukan. Dari ketinggian struktur batu karang yang direkatkan dengan putih telur ini, hamparan Danau Limboto membentang luas. Namun, biru airnya kini seolah tertutup oleh serbuan warna hijau yang masif. Ribuan eceng gondok tumbuh subur, menutupi permukaan danau yang kian mendangkal, menciptakan pemandangan yang kontradiktif antara kemegahan sejarah dan degradasi alam.

​Melihat Danau Limboto dari puncak Otanaha memunculkan rasa miris yang mendalam. Eceng gondok yang tumbuh tak terkendali bukan sekadar pemandangan alam, melainkan alarm ekologis tentang kondisi salah satu danau terbesar di Sulawesi ini. Danau yang dahulu menjadi sumber kehidupan dan sarana transportasi penting, kini tampak sedang berjuang melawan sedimentasi dan polusi nutrisi yang mengancam keberadaannya bagi generasi mendatang.

​Kesedihan itu semakin memuncak ketika ingatan beralih ke sebuah titik yang terletak tak jauh dari kaki bukit ini. Di tepian danau yang sama, terdapat sebuah lokasi bersejarah yang sering terlupakan: Pos Pendaratan Bung Karno. Pada tahun 1951, Presiden pertama Republik Indonesia menginjakkan kakinya di sini menggunakan pesawat amfibi, sebuah momen monumental yang menandai pengakuan pusat terhadap eksistensi dan kesetiaan rakyat Gorontalo.

​Sangat kontras membayangkan kemegahan penyambutan Sang Proklamator di masa lalu dengan kondisi tepian danau saat ini. Jika dahulu air danau begitu jernih hingga pesawat amfibi bisa mendarat dengan gagah, kini rimbunnya eceng gondok seolah menyembunyikan memori itu. Ada rasa pedih saat menyadari bahwa situs sejarah yang melambangkan kedaulatan bangsa berada tepat di samping ekosistem yang sedang sekarat.

​Ketiga benteng Portugis ini sebenarnya adalah simbol ketahanan lokal, karena meskipun diprakarsai asing, pembangunannya melibatkan tenaga dan material dari bumi Gorontalo. Namun, simbol ketahanan itu kini terasa ironis. Kita berhasil mempertahankan fisik bangunan kuno ini, namun seolah gagal mempertahankan kualitas lingkungan dan kehormatan situs-situs yang menandai kemerdekaan kita sendiri di bawah sana.

​Berdiri di antara dinding batu Otanaha, angin berhembus membawa aroma air tawar yang lembap. Dari sini, saya bisa melihat bagaimana permukiman warga mulai mengepung area danau. Tekanan penduduk dan eksploitasi lahan yang kurang terkontrol menjadi alasan utama mengapa Danau Limboto terus menyusut. Tanpa disadari, kita sedang menghapus jejak geografis yang dahulu dibanggakan oleh Bung Karno saat beliau berkunjung.

​Kehadiran Bung Karno pada tahun 1951 di lokasi ini bukan tanpa alasan. Beliau ingin memastikan bahwa semangat persatuan tetap berkobar di seluruh pelosok nusantara pasca-kemerdekaan. Namun, apakah semangat persatuan itu juga mencakup semangat menjaga warisan alam dan sejarah? Pertanyaan ini terus mengusik pikiran saat memandang ke arah dermaga tua yang kini terlihat lesu di tengah kepungan gulma air.

​Ada semacam paradoks sejarah yang tersaji di depan mata. Benteng Portugis yang dibangun untuk tujuan kolonialisme justru tampak lebih terawat dan menjadi ikon wisata, sementara situs pendaratan Bapak Bangsa sendiri seringkali terasa kurang mendapatkan porsi perhatian yang layak. Seolah-olah kita lebih bangga pada sisa-sisa penindasan masa lalu daripada simbol-simbol perjuangan dan kedaulatan.

​Ziarah ini memberikan pelajaran berharga bahwa sejarah tidak pernah berdiri sendiri. Ia terikat erat dengan bentang alam di sekitarnya. Danau Limboto, Benteng Otanaha, dan Pos Pendaratan Sukarno adalah satu kesatuan narasi tentang bagaimana manusia berinteraksi dengan tanah ini. Jika danau itu hilang, maka konteks sejarah mengapa benteng itu dibangun dan mengapa Sukarno mendarat di sana juga akan perlahan mengabur.

​Menurunkan anak tangga bagi siapa pun satu per satu meninggalkan kompleks benteng, rasa berat di hati tak kunjung hilang. Ada kerinduan untuk melihat Danau Limboto kembali pulih, di mana airnya kembali biru dan bebas dari hamparan eceng gondok yang menyesakkan. Ada harapan agar situs pendaratan Bung Karno tidak hanya menjadi monumen mati, tetapi menjadi pengingat bagi setiap orang yang lewat tentang martabat bangsa.

​Kunjungan ke tiga benteng ini akhirnya bukan sekadar wisata foto, melainkan sebuah refleksi tentang tanggung jawab. Kita adalah ahli waris dari sejarah yang besar dan alam yang kaya. Merawat Benteng Otanaha saja tidak cukup jika kita membiarkan Danau Limboto dan memori Sukarno tenggelam dalam kelalaian. Sudah saatnya kita menoleh kembali ke arah danau dengan aksi nyata, sebelum sejarah itu benar-benar tertutup hijau eceng gondok selamanya.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini