News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Tribunners

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email: redaksi@tribunnews.com.

Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

AI, Ancaman Baru di Dunia Cybersecurity dan Solusinya: Kawan Atau Lawan?

Editor: Glery Lazuardi
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

AI - Lonjakan serangan siber dan deepfake jadi ancaman serius, Indonesia dorong AI sebagai benteng pertahanan.

Peraturan ini bertujuan untuk menciptakan ekosistem AI yang berkembang secara aman, etis, dan produktif, sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam ekonomi digital global. Kerangka kerja ini akan melengkapi Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi (UU PDP), Strategi Keamanan Siber Nasional (Perpres No. 47/2023), serta upaya paralel dari Komdigi dan BRIN untuk mempromosikan transparansi, akuntabilitas, dan kedaulatan data.

Mitra industri juga turut berperan aktif. Misalnya, Alibaba Cloud mendukung agenda nasional ini dengan membantu organisasi mengimplementasikan infrastruktur AI yang aman, sesuai regulasi, dan dapat diandalkan, yang selaras dengan visi digital jangka panjang Indonesia.

Namun, regulasi saja tidak cukup untuk menutup setiap celah. Seiring dengan kemajuan kemampuan AI, kerentanan baru muncul dengan kecepatan yang sama. Fase berikutnya dalam keamanan siber akan bergantung pada dua pilar: satu yang melindungi sistem AI sambil juga menggunakan AI untuk mendeteksi dan menetralkan ancaman.

Seiring dengan perkembangan model pembelajaran mesin, pertahanan di sekitarnya juga harus berkembang. Aturan statis dan respons manual tidak lagi mampu mengikuti laju musuh yang mengotomatisasi kreativitas dan memanfaatkan kecepatan. Yang dibutuhkan adalah ekosistem yang belajar secepat ia mempertahankan diri.

Perubahan tersebut sudah dimulai. Platform keamanan multi-agen kini mengoordinasikan deteksi, penyaringan, dan pemulihan di seluruh miliaran peristiwa harian.

Model ringan yang spesifik domain menyaring kebisingan, sementara model penalaran yang lebih besar mengidentifikasi pola serangan yang sebelumnya belum pernah terlihat. Ini adalah alur kerja kecerdasan yang meniru musuh, namun kali ini dirancang untuk pertahanan.

Penerapan kecerdasan

Masa depan keamanan digital akan bergantung pada kolaborasi antara wawasan manusia dan intuisi mesin. Secara praktis, hal ini berarti perlu melatih ulang tenaga kerja, serta merancang ulang infrastruktur.

Analis yang mampu menafsirkan output AI, ilmuwan data yang memahami risiko, dan pembuat kebijakan yang membangun kepercayaan melalui transparansi sangat dibutuhkan. Permainan jangka panjang ini tentang kepercayaan, bukan hanya ketahanan. Kepercayaan bahwa sistem yang menggerakkan kehidupan modern sedang belajar untuk melindungi diri mereka sendiri. 

Karena pada akhirnya, AI bukanlah musuh dalam cerita ini. Algoritma yang sama yang membuat serangan menjadi lebih kuat serta dapat membuat perlindungan menjadi lebih akurat.

Pertanyaannya bagi para pemimpin bisnis di mana pun adalah, apakah mereka akan bergerak dan berinvestasi cukup cepat, sehingga kecerdasan yang membentuk babak berikutnya dalam keamanan siber, bukan keterlambatan.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini