Di Indonesia, bermitra dengan SOS Children’s Villages dan menyelenggarakan berbagai lokakarya keterampilan serta program pendampingan bagi anak muda di lingkungan SOS Children’s Villages untuk membantu mereka mempersiapkan transisi menuju dunia kerja.
Program mulai diimplementasikan di Indonesia sejak 2014. Pada 2025, menggandeng berbagai perusahaan dan mitra lokal, termasuk Berkat Lentera Kecil, Dibimbing, Merck, Yayasan Berani Bermimpi, serta para profesional di bidang kesehatan mental dan perencanaan keuangan, untuk menyusun kurikulum yang komprehensif.
Materi yang diberikan berfokus pada pengembangan diri, kesiapan kerja, literasi digital, serta wawasan mengenai sektor-sektor dengan potensi pertumbuhan tinggi.
Para peserta mengikuti delapan sesi virtual terstruktur untuk memastikan setiap anak muda mendapatkan materi pembelajaran yang sama, tanpa terbatas oleh lokasi geografis.
Dilengkapi dengan kegiatan mentoring, di mana para relawan berperan sebagai mentor guna memperdalam interaksi dan kolaborasi.
Untuk mendorong pembelajaran berkelanjutan, kami meluncurkan perpustakaan pembelajaran daring yang memungkinkan para peserta mengakses kembali materi pelatihan, mempelajari modul tambahan, serta mengembangkan keterampilan sesuai kebutuhan masing-masing.
Memberikan fleksibilitas bagi anak muda untuk belajar dengan kecepatan mereka sendiri, sehingga mendukung pertumbuhan kompetensi yang lebih efektif. Kami dapat membuka akses pembelajaran yang lebih setara. Tahun ini menunjukkan bahwa skala dan kedalaman kolaborasi mampu menghasilkan pembelajaran yang semakin relevan bagi generasi mendatang.
Kami berkomitmen untuk memberikan akses pembelajaran yang adil bagi generasi muda.
Sepanjang tahun lalu, koordinasi antara SOS Children’s Villages dan DHL membantu menjembatani berbagai keterbatasan akses di sejumlah wilayah, seperti tantangan konektivitas dan keterbatasan sumber daya pendidikan, sehingga memastikan kesempatan belajar yang setara bagi seluruh peserta.
Banyak anak muda memiliki potensi besar namun belum memiliki akses untuk mengembangkan keterampilan komunikasi, disiplin kerja, dan kemampuan pemecahan masalah. Kami memberikan kesempatan tersebut, dan kami menyaksikan peningkatan keterampilan yang konsisten sepanjang program.
Tantangan ketenagakerjaan bagi generasi muda di Indonesia masih menjadi perhatian nasional di tengah meningkatnya kebutuhan industri akan talenta yang siap kerja.
Data menunjukkan bahwa tingkat pengangguran pada kelompok usia 15–24 tahun mencapai 16,16 persen, menjadikan kelompok usia ini sebagai yang tertinggi secara nasional.
Kondisi ini menegaskan pentingnya intervensi yang terarah untuk memperkuat kesiapan kerja serta memperluas akses pembelajaran yang setara bagi generasi muda.
Dengan fondasi pembelajaran yang semakin inklusif, kami bertujuan untuk terus memperluas jangkauan, memperdalam kolaborasi, serta mendukung pengembangan ekosistem talenta muda Indonesia yang adaptif dan berdaya saing global.
Baca tanpa iklan