News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Tribunners

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email: redaksi@tribunnews.com.

Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Membaca Utuh Traktat Keamanan Bersama Indonesia dan Australia

Editor: Glery Lazuardi
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

AUSTRALIA INDONESIA - Indonesia-Australia teken traktat keamanan bersama, perkuat pertahanan kawasan di tengah tensi geopolitik global.

DI TENGAH sirkumstansi geopolitik global yang kian runcing akibat aksi-aksi koersif Amerika Serikat (AS) dan major states lainnya, Indonesia dan Australia berhasil bersepakat untuk mempererat kerja sama di bidang pertahanan dan keamanan dengan menandatangani Treaty on Common Security atau Traktat Keamanan Bersama.

Poin-poin kerja sama dalam traktat tersebut sudah dibicarakan dan disepakati pada November tahun lalu oleh kedua belah pihak.

Situasi geopolitik yang kian memanas dan intensi kedua negara untuk meningkatkan ketahanan kawasan dan membangun detterence effect (daya gentar) terhadap pihak eksternal menjadi poin penting yang mengakselerasi kesepakatan secara ofisial di antara kedua negara.

Indonesia adalah mitra pertahanan strategis bagi Australia. Australia secara strategis melihat Indonesia memiliki potensi dan kapasitas yang besar dalam membangun stabilitas perdamaian di kawasan Asia Tenggara yang notabene merupakan halaman depan bagi Australia. Sedikit saja turbulensi keamanan yang mengganggu kawasan Asia Tenggara, maka dapat berdampak langsung terhadap Australia.

Sebagai gambaran, pada pertemuan ekosistem intelijen Indonesia yang terdiri dari unsur BIN, BNPT, TNI, dan Lemhannas RI dengan CDSS Australia yang penulis ikuti pada pertengahan 2017 silam, para pemangku kepentingan sektor pertahanan dan keamanan di Australia mengutarakan kegusarannya terhadap dinamika terorisme yang semakin meningkat di kawasan.

Pada kesempatan itu, mereka menekankan pentingnya peran Indonesia sebagai key country dalam stabilisasi setiap ancaman keamanan yang muncul di kawasan.

Kalkulasi strategis Australia

Dinamika kawasan terus bergerak dengan fluktuasi dan arah gerak yang kadang sukar diprediksi. Australia pada 2021 mengikat jalinan kerja sama strategis dengan AS dan Inggris Raya dalam kerja sama AUKUS.

Secara resmi, ketiga negara yang tergabung dalam kerja sama AUKUS tersebut berkomitmen untuk memperkuat kemampuan pertahanan dan keamanan masing-masing dalam merespons ancaman.

Namun demikian, setiap kerja sama pertahanan selalu memiliki sisi black box yang tak selalu disampaikan kepada publik. Baik Australia maupun AS sepakat untuk untuk membangun aliansi strategis dalam membendung penguatan pengaruh Tiongkok di kawasan.

Australia sepakat dengan AS bahwa Tiongkok adalah ancaman yang harus dibendung sebagaimana Australia menyebut Tiongkok sebagai “Ancaman dari Utara” dalam buku putih pertahanannya.

Secara implisit, bergabungnya Australia dalam AUKUS merupakan jaminan kuat terhadap aspek pertahanan dan keamanannya. Namun demikian, melihat sikap agresif AS dalam pengejawantahan politik luar negerinya, Australia saat ini berupaya untuk meningkatkan kewaspadaan nasional.

Logika yang dipakai oleh para pengambil kebijakan sektor pertahanan Australia saat ini lebih rasionalistis dengan melihat potensi ancaman yang potensial hadir dari AS-tentu dengan tidak mengabaikan ancaman-ancaman potensial lainnya. Jika AS dengan mudah membuat fragilitas dan distraksi di NATO melalui upaya pencaplokan Greenland, maka hal yang sama juga bisa terjadi pada Australia.

Sekadar pengingat dan rujukan, ketika AS memberlakukan tarif resiprokal kepada negara-negara lain, Australia turut terdampak dengan pengenaan tarif sebesar 10 persen untuk produk-produk impor yang berasal dari AS-sebuah kebijakan yang direspons secara keras oleh Canberra.

Australia memiliki perspektif dan peninjauan jangka panjang terhadap potensi-potensi ancaman yang dapat hadir dan membahayakan kepentingan nasionalnya, termasuk dari AS. Sikap AS yang koersif dan unilateralistis terhadap negara-negara lain seperti Venezuela, Denmark, dan Iran, serta dukungan AS terhadap Israel dalam mengagresi Gaza dan Iran, berpotesi menimbulkan efek derivatif.

Dan, efek derivatif yang coba diantisipasi oleh Australia adalah menguatnya sentimen global terhadap AS dan sekutu-sekutunya yang berasal dari kalangan teroris. Sebagai pembelajaran, masifnya aksi terorisme global yang dilakukan oleh Al-Qaedah dan ISIS dan kelompok-kelompok teroris ekorannya merupakan resultante dari perang global melawan terorisme yang dikobarkan oleh AS.

Halaman
12
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini