News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Tribunners

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email: redaksi@tribunnews.com.

Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Kosmetik Ilegal dan Luka yang Tak Terlihat

Editor: Glery Lazuardi
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

AKBAR ENDRA - Di balik kilau sesaat, kosmetik ilegal menyimpan bahaya: flek membandel, kulit rusak, dan penyesalan tak terhapus
PROFIL PENULIS
Akbar Endra
Penulis adalah Staf Ahli Kepala BPOM RI Bidang Media Sosial dan Komunikasi Publik

LUKA itu terlihat di wajahnya, tetapi sebabnya tersembunyi di balik janji cantik instan. Sebuah panggilan video sore hari membuka kisah tentang kosmetik ilegal yang meninggalkan jejak lebih panjang daripada kilau sesaat.

Suatu sore, layar ponsel saya menyala. Panggilan video masuk dari seorang politisi perempuan yang sudah lama saya kenal. Usianya melewati empat puluh tahun.

Dalam setiap pemilu, ia selalu menjadi calon legislatif prioritas dari salah satu partai besar. Wajahnya kerap hadir di baliho dan ruang publik—rapi, terawat, dan penuh keyakinan.

Di layar itu, senyum masih ada. Namun cahayanya tidak lagi sama.

Sebut saja namanya Lucinda Salahbedak.

Ia tidak menelepon untuk membicarakan peta kekuatan politik atau strategi kampanye. Percakapan itu justru bergerak ke wilayah yang jauh lebih personal.

Tentang wajahnya yang tak lagi “patuh”. Tentang flek hitam yang kini hampir menutup separuh pipinya. Tentang rasa percaya diri yang perlahan menguap, meski pengaruh politik dan posisinya tetap utuh.

“Sekarang saya harus pakai bedak tebal,” katanya pelan. “Kalau cuaca panas, semuanya luntur.”

Bagi seorang politisi perempuan, wajah adalah penampilan awal, identitas dan simbol kesiapan tampil di ruang publik, dan sumber kepercayaan diri.

Ketika wajah berubah, yang goyah bukan hanya cermin, tetapi juga keyakinan pada diri sendiri.

Lucinda Salahbedak bukan perempuan yang mudah terjebak ilusi. Ia terdidik dan rasional. Namun seperti banyak perempuan lain, ia pernah tergoda janji kecantikan instan—kulit cerah dalam waktu singkat, hasil cepat tanpa proses panjang. Pada awalnya, janji itu tampak ditepati.

Kulitnya bersih dan bercahaya. Namun waktu, seperti biasa, membongkar sisi lain yang tersembunyi.

Yang tertinggal kini adalah flek hitam membandel, kulit yang semakin sensitif, dan penyesalan yang datang terlambat.

Antara Janji Instan dan Risiko Kesehatan 

Sejumlah pakar dermatologi mengingatkan, perubahan kulit akibat kosmetik berbahaya sering kali tidak muncul seketika. Zat seperti merkuri, hidrokuinon dosis tinggi, dan steroid dapat menekan mekanisme alami kulit. Dalam jangka pendek, kulit tampak cerah.

Namun dalam jangka panjang, pigmen menjadi kacau, lapisan kulit menipis, dan flek sulit ditangani. Pemulihan membutuhkan waktu lama—dan tidak selalu kembali seperti semula.

Kisah Lucinda Salahbedak adalah fragmen dari persoalan yang lebih luas: peredaran kosmetik ilegal yang menjual harapan, tetapi meninggalkan kerusakan.

Dalam beberapa tahun terakhir, otoritas berulang kali mengungkap temuan kosmetik tanpa izin edar yang beredar luas, baik di pasar konvensional maupun di ruang digital.

Polanya nyaris seragam: klaim hasil cepat, testimoni meyakinkan, dan risiko kesehatan yang disembunyikan.

Masalah ini tidak lagi semata urusan estetika, melainkan kesehatan publik. Zat berbahaya dalam kosmetik tidak berhenti di permukaan kulit. Ia dapat masuk ke aliran darah dan memengaruhi organ tubuh lain.

Karena itu, negara hadir menjaga batas tersebut melalui Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM)—melakukan pengawasan sebelum produk beredar, inspeksi lapangan, pengujian laboratorium berbasis sains, hingga penegakan hukum.

Pesan BPOM sesungguhnya sederhana: jangan mempertaruhkan kesehatan demi hasil instan. Izin edar bukan tentang administrasi produk, melainkan penanda bahwa sebuah produk telah melewati penilaian keamanan dan mutu.

Memeriksa kemasan, label, izin edar, dan masa kedaluwarsa adalah langkah kecil yang berdampak besar.

Namun sekuat apa pun pagar negara dibangun, ia akan rapuh jika kesadaran publik tertinggal. Pasar kosmetik ilegal tumbuh bukan semata karena kelicikan pelaku, melainkan karena permintaan.

Ketika hasil cepat lebih dipilih daripada proses aman, ketika testimoni mengalahkan sains, ruang bagi produk berbahaya akan selalu terbuka—terlebih di era media sosial, ketika filter menipu realitas dan standar cantik palsu diproduksi massal.

Merawat kecantikan sejatinya bukan tindakan gegabah. Ia adalah proses—sabar, aman, dan berkesadaran.

Kecantikan yang dipelihara dengan pengetahuan dan kehati-hatian akan bertahan lebih lama daripada kilau sesaat yang dibeli dengan risiko. Pada titik tertentu, inner beauty—ketenangan, kepercayaan diri, dan penerimaan diri—jauh lebih memesona daripada bercak yang lahir dari krim bermerkuri.

Percakapan singkat dengan Lucinda Salahbedak sore itu meninggalkan kesan mendalam. Di balik jabatan dan pencapaian politik, ada manusia yang rapuh. Ada penyesalan yang tak mudah diucapkan. Dan ada pelajaran tentang pilihan-pilihan kecil di depan cermin yang berdampak panjang bagi kesehatan dan martabat.

Cantik seharusnya tidak menyakitkan.

Dan harapan, betapapun menggoda, tidak pernah layak dibayar dengan risiko kesehatan.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini