TEPAT 31 Maret 2026, perang di Timur Tengah genap memasuki bulan kedua. Bukan mendingin, bara api peperangan itu justru mengalami eskalasi horizontal sistematis.
Polanya tetap, namun front perang melebar, sementara diplomasi jalan di tempat, dan ekonomi global mulai tercekik secara struktural.
Data Reuters mengonfirmasi keterlibatan Houthi bukan sekadar retorika. Serangan resmi mereka ke wilayah Israel membuka kotak pandora di jalur pelayaran Semenanjung Arab.
Jika selama ini dunia hanya mencemaskan Selat Hormuz sebagai urat nadi energi, kini Bab el-Mandeb dan Laut Merah resmi menjadi zona merah mencekam.
Bagi raksasa logistik seperti Maersk dan Hapag-Lloyd, ini realitas pahit. Biaya tambahan (surcharge) meroket tajam, dan rantai pasok global dipaksa mencari rute memutar melalui Tanjung Harapan yang jauh lebih mahal.
Geopolitik Tersandera Domestik
Ada pergeseran fundamental dalam determinasi perang kali ini. Arah konflik tidak lagi hanya ditentukan moncong meriam di garis depan, tetapi juga tekanan domestik di meja makan warga Washington, Tel Aviv, dan Teheran.
Beginilah "perang terhadap biaya hidup" sebenarnya, di mana inflasi menjadi peluru lebih mematikan daripada misil balistik.
Di Amerika Serikat, Donald Trump menghadapi ujian kredibilitas pelik. Harga bensin nasional menembus angka psikologis US$4 per galon, melonjak 36 persen dalam satu bulan.
Polling Reuters/Ipsos menunjukkan angka approval Trump merosot ke 36 persen, sementara 61 persen responden menolak keterlibatan militer langsung ke Iran.
Washington terjepit secara politik, butuh kemenangan strategis cepat demi wibawa, namun harus menghindari "perang abadi" (boots on the ground) yang bisa menghancurkan ekonomi menjelang siklus politik berikutnya.
Kondisi serupa terjadi di Israel. Meski Netanyahu berhasil mengamankan anggaran 2026 di Knesset dan menghindari pemilu dini, fondasi ekonominya mulai keropos. Bank of Israel memangkas ekspektasi pertumbuhan akibat anjloknya sektor pariwisata, konsumsi, dan kelangkaan tenaga kerja.
Di sisi lain, Iran bertahan dengan represi keras.
Pengerahan keamanan besar-besaran, hingga melibatkan relawan di bawah umur di titik pemeriksaan Basij, menunjukkan bahwa stabilitas Teheran saat ini bertumpu pada ketakutan, bukan konsensus sosial organik.
Diplomasi Layu dan Krisis Asia
Upaya damai yang digalang Pakistan lebih mirip "alat pemadam kebakaran" darurat daripada arsitektur solusi permanen. Iran tegas menolak proposal Amerika Serikat yang dianggap unrealistic.
Sejauh ini, saluran diplomasi hanya berfungsi mencegah ledakan nuklir atau perang total, namun belum menyentuh substansi konflik. Semua pihak masih berada dalam fase mencari posisi tawar (bargaining position) terkuat sebelum dipaksa duduk di meja perundingan.
Baca tanpa iklan