Oleh: Defrizal Siregar, S.Or.,AIFO-FIT
Bidang Pembinaan dan Pengembangan Olahraga DPP PKS
Dunia hari ini sedang berdiri di atas fragmen ketidakpastian.
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah pusaran konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat telah mencapai titik didih.
Penutupan Selat Hormuz bukan lagi sekadar ancaman kosong, melainkan lonceng kematian bagi stabilitas energi dunia.
Ketika jalur distribusi minyak tersumbat, harga bahan bakar melonjak, dan inflasi menghantam meja makan rakyat, kita dipaksa untuk bertanya, apa yang bisa kita lakukan?
BINAPORA DPP PKS memandang bahwa jawaban dari krisis global ini tidak melulu berada di meja diplomasi internasional, melainkan ada pada kekuatan fisik dan mental setiap kader serta rakyat Indonesia.
Di momentum Milad PKS ke-24 ini, kami menegaskan bahwa olahraga adalah solusi konkret bagi ketahanan pangan, ekonomi, dan energi.
1. Olahraga sebagai Buffer Ketahanan Energi
Krisis energi akibat penutupan Selat Hormuz berdampak langsung pada biaya transportasi.
Di saat BBM mahal dan langka, olahraga (khususnya berjalan kaki dan bersepeda) bukan lagi sekadar hobi, melainkan strategi bertahan hidup.
Logikanya sederhana dengan membudayakan gerak fisik untuk mobilitas jarak dekat, kita mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.
Setiap kayuhan pedal dan langkah kaki adalah kontribusi nyata dalam menghemat cadangan energi nasional. Olahraga mengubah tubuh kita menjadi mesin penggerak yang mandiri dan efisien.
Dan juga berbagai aktivitas olahraga yang rutin dijalankan juga akan meningkatkan ketahanan fisik dan mental untuk menghadapi krisis yang terjadi.
2. Efisiensi Fisik untuk Ketahanan Ekonomi
Krisis ekonomi global membawa dampak pada melambungnya biaya kesehatan.
Olahraga adalah investasi dengan modal nol rupiah namun dengan imbal hasil (return) yang tak terhingga.
Masyarakat yang gemar berolahraga memiliki imunitas yang tinggi. Di tengah krisis, jatuh sakit adalah beban ekonomi yang berat.
Baca tanpa iklan