”Trump Ultimatum Iran: Tak Ada Lagi ‘Tuan Baik Hati’, Deal atau Hancur!” Demikian judul berita yang saya baca pagi ini.
Dalam berbagai kesempatan Trump dikenal membentak dan menggertak lawan politiknya lewat berbagai media, khususnya di Truth Social.
“Kami menawarkan kesepakatan yang sangat adil dan masuk akal, dan saya berharap mereka menerimanya karena, jika tidak, Amerika Serikat akan menghancurkan setiap pembangkit listrik, dan setiap jembatan, di Iran. TIDAK ADA TUAN BAIK HATI! LAGI,” tegasnya, dalam unggahannya di Truth Social, Minggu (19/4/2026).
Apakah Iran keder? Tidak! Mereka bahkan balas mengancam. Setiap kapal yang berani melewati Selat Hormuz bakal hangus, persis seperti kapal berbendera India yang nekat melintas.
Bahkan menjelang peringatan Hari Kartini di Tanah Air, para perempuan Iran ikut memegang senjata dan siap terjun ke laga yang tak kunjung usai.
Trump kehilangan sentuhan midasnya?
Sepandai-pandainya berakrobatik di tengah sorotan jutaan mata—pengagum sekaligus pembencinya—Trump akhirnya terpeleset juga.
Tepat pada Paskah Gereja Ortodoks—12 April—Presiden Amerika Serikat ini memposting dirinya dalam jubah merah putih sedang menyembuhkan seorang pria yang sakit.
Di belakangnya sinar memancar dari bendera Amerika Serikat, prajurit, elang dan pesawat tempur seakan menggambarkan bahwa dia adalah ‘dokter dunia’—julukan bagi AS yang dulu dikenal sebagai ‘polisi dunia’.
Bisa jadi postingan ini bermaksud mem-rebranding dirinya dari seorang polisi yang keras dan tegas ke seorang dokter yang welas asih.
Jika ditinjau dari viralitas publisitas, Trump behasil. Bulan April ini menjadi bulan Trump.
Ke-pinter-an atau ke-blunder-annya ‘menyamakan’ dirinya dengan Yesus Penyembuh membuatnya jadi pusat lampu sorot internasional lagi.
Lagi? Ya. Bukankah setiap ucapan, sikap dan tindakannya sering menjadi sumber berita yang tak pernah kering?
Sosok yang dikenal ‘untouchable’ ini—pakar media yang bisa mengubah kontroversi menjadi ‘victory’ kali ini tampaknya kehilangan sentuhan Midas-nya.
Emas yang biasanya muncul begitu tersentuh kepiawaiannya mengorkestrasi media saat ini menjadi seperti noda yang tampaknya tidak gampang untuk dihilangkan.
Baca tanpa iklan