News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Tribunners

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email: redaksi@tribunnews.com.

Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Gejolak Rupiah

Menelaah Arah Pergerakan Nilai Tukar Rupiah

Editor: Glery Lazuardi
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

NILAI TUKAR RUPIAH - Fenomena overshooting Dornbusch menjelaskan depresiasi ekstrem rupiah, dipicu tren inflasi dan suku bunga global.

SAYA ingin memulai tulisan ini dengan mengutip pandangan ekonom, Rudiger Dornbusch dari Massachusetts Institute of Technology (MIT), Amerika Serikat (AS) dalam artikelnya berjudul "Expectations and Exchange Rate Dynamics" yang dipublikasikan pada Journal of Political Economy, tahun 1976.

Dornbusch menyatakan bahwa tingkat suku bunga di suatu negara sama dengan tingkat suku bunga internasional ditambah ekspektasi perubahan nilai tukar mata uang negara tersebut terhadap mata uang negara lainnya. 

Teori Dornbusch juga menunjukkan bahwa penurunan suku bunga (akan datang) menyebabkan peningkatan permintaan uang (real money demand) saat ini. Atau kenaikan suku bunga menurunkan permintaan uang.

Hal yang sama dengan peningkatan pendapatan dalam suatu perekonomian, tercermin pada kenaikan Gross Domestic Product (GDP), menambah permintaan uang. Sebaliknya, penurunan pendapatan menurunkan permintaan uang.

Gagasan Dornbusch sangat populer dengan Dornbusch overshooting model. Ketika terjadi tekanan terhadap suatu perekonomian, maka dalam jangka pendek, nilai tukar mata uang negara tersebut akan terdepresiasi (melemah). 

Fenomena overshooting dapat diamati pada pergerakan kurs rupiah per dollar AS sejak Januari 2026 hingga saat ini. 

Pada saat terjadi tekanan terhadap perekonomian nasional berupa kenaikan harga minyak dunia, meningkatnya ekspektasi inflasi global, naiknya tren suku bunga global dan turunnya likuiditas global menyebabkan depresiasi ekstrim rupiah per dollar AS.

Hal ini dapat diamati pada pergerakan nilai tukar rupiah per dollar AS sejak awal Januari 2026 dari sekitar Rp. 16.690  per dollar AS menjadi Rp. 16.935 per dollar AS pada 9 Maret 2026 dan terus menuju titik terendah hingga saat ini, sekitar Rp. 17.879 per dollar AS pada 2 Juni 2026. 

Lalu, apakah nilai tukar rupiah per dollar AS akan terus melemah dalam beberapa waktu ke depan? Dan berapa lama waktu yang dibutuhkan oleh mata uang rupiah untuk berbalik arah kembali ke keseimbangan jangka panjangnya? 

Jawabnya, berdasarkan exchange rate overshooting model, mula-mula, dalam jangka pendek, rupiah per dollar AS terdepresiasi ekstrim. 

Di mana, tingkat depresiasi rupiah per dollar AS dalam jangka pendek jauh lebih besar dibandingkan tingkat depresiasinya dalam jangka panjang. 

Sampai pada titik tertentu, nilai tukar rupiah per dollar AS akan mengalami penguatan secara bertahap (gradual) menuju ke keseimbangan jangka panjangnya. 

Fenomena exchange rate overshooting terjadi karena dalam jangka pendek harga bersifat rigid (kaku), tidak elastis. Demikian juga dengan output bersifat konstan (tidak berubah) dalam jangka pendek. 

Sehingga satu-satunya variabel dalam Dornbusch overshooting model yang dapat mengabsorbsi tekanan adalah nilai tukar rupiah per dollar AS. 

Artinya, tren pelemahan rupiah per dollar AS hingga pada batas tertentu akan mengalami pembalikan arah, yaitu menguat menuju ke keseimbangan jangka panjang.

Halaman
123
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini