News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Tribunners

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email: redaksi@tribunnews.com.

Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Memahami New Saudi Narrative: Cermin untuk Membaca Masa Depan Indonesia

Editor: Malvyandie Haryadi
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

ARAB SAUDI - Jembatan King Fahd, yang menghubungkan Kerajaan Arab Saudi dengan Kerajaan Bahrain.

SATU tahun lalu, ketika saya kembali menginjakkan kaki di Arab Saudi, ada perasaan yang sulit dijelaskan dengan angka-angka ekonomi maupun laporan lembaga pemeringkat internasional.

Di tanah yang selama berabad-abad dikenal sebagai pusat spiritual umat Islam itu, saya merasakan sesuatu sedang bergerak. Bukan pada Ka’bah yang tetap menjadi pusat orientasi jutaan manusia.

Bukan pula pada Masjid Nabawi yang masih memancarkan keteduhan yang sama seperti berabad-abad lalu. Yang berubah adalah energi sebuah bangsa yang tampak sedang berusaha mendefinisikan ulang dirinya sendiri.

Di Riyadh, di Jeddah, bahkan dalam percakapan-percakapan sederhana dengan warga setempat, terasa ada kesadaran baru bahwa masa depan tidak boleh seluruhnya dititipkan kepada minyak.

Barangkali itulah inti dari apa yang hari ini dikenal dunia sebagai New Saudi Narrative.

Banyak orang melihatnya dari permukaan: kota futuristik NEOM, stadion megah, balapan Formula 1, klub-klub sepak bola yang mendatangkan bintang dunia, investasi teknologi, kecerdasan buatan, kawasan wisata Laut Merah, hingga berbagai reformasi sosial yang sebelumnya sulit dibayangkan terjadi di Saudi. Semua itu memang nyata.

Namun jika kita berhenti pada bangunan-bangunan megah tersebut, kita mungkin justru gagal memahami perubahan yang sesungguhnya sedang berlangsung.

Karena yang sedang dibangun Saudi bukan sekadar kota.

Yang sedang dibangun adalah kepercayaan terhadap masa depan.

Sejarah sering mengajarkan sebuah ironi.

Bangsa-bangsa miskin biasanya dipaksa berubah karena mereka tidak memiliki pilihan. Sebaliknya, bangsa-bangsa kaya justru sering terlambat berubah karena merasa memiliki terlalu banyak alasan untuk mempertahankan keadaan.

Arab Saudi memahami paradoks itu.

Sejak ditemukannya minyak di Dammam pada 1938, minyak bukan hanya sumber pendapatan negara. Minyak menjadi fondasi dari kontrak sosial modern Saudi.

Negara menyediakan kesejahteraan, infrastruktur, layanan publik, dan stabilitas. Sebagai imbalannya, masyarakat memberikan legitimasi dan dukungan terhadap sistem yang berjalan.

Model itu bekerja sangat baik selama puluhan tahun.

Halaman
1234
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini