TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Nilai tukar rupiah ditutup melemah pada penutupan perdagangan, Selasa (2/6/2026) sore ke level Rp17.839 per dolar AS.
Mata uang Garuda itu melemah 34 poin dari penutupan sebelumnya di level Rp17.805 per dolar AS.
Sepanjang perdagangan hari ini, rupiah bahkan sempat menyentuh titik terendah dengan pelemahan hingga 85 poin.
"Pada perdagangan sore ini, mata uang rupiah ditutup melemah 34 point sebelumnya sempat melemah 85 point dilevel Rp.17.839 dari penutupan sebelumnya di level Rp.17.805," kata Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi, dalam keterangan resminya, Selasa (2/6/2026).
Ambruknya rupiah itu kata Ibrahim turut dipengaruhi adanya sektor eksternal salah satunya ketidakpastian global yang terus berlanjut.
Terlebih kebijakan Presiden AS Donald Trump terbaru terkait konflik di Timur Tengah dan perubahan tarif impor sebagai faktor utama yang memicu ketidakpastian pasar global.
"Kita melihat ada kontradiksi. Di satu sisi, faktor eksternal sangat dinamis karena pernyataan Trump soal Iran dan Selat Hormuz. Namun di sisi lain, data domestik kita seperti inflasi dan manufaktur masih di zona aman," ujar dia.
Tak hanya itu, pernyataan Trump yang berubah-ubah terkait negosiasi dengan Iran juga justru menjadi ketidakpastian global memuncak.
"Kuncinya ada di Selat Hormuz. Iran sempat menghentikan hampir semua pengiriman, yang mengakibatkan pasokan gas dan minyak dunia tercekik hingga 20 persen. Ini yang membuat harga energi melonjak 50 persen dan menekan mata uang negara berkembang, termasuk Rupiah," jelas Ibrahim.
Selain itu, Trump baru-baru ini juga menandatangani proklamasi yang mengubah tarif impor tembaga, aluminium, dan besi.
Proklamasi tersebut diyakini Ibrahim dapat menurunkan tarif untuk beberapa peralatan pertanian dari 25 persen menjadi 15%.
Menurut dia, kebijakan proteksionisme AS ini bertujuan membangun kembali basis industri mereka, namun berisiko mengganggu arus perdagangan global.
Selain berasal dari eksternal, pelemahan rupiah juga terjadi karena adanya faktor internal atau yang berada di dalam negeri meski pemerintah mencatatkan angka yang baik untuk kondisi perekonomian RI.
Dimana, Badan pusat Statistik (BPS) mencatat perekonomian Indonesia mengalami inflasi sebesar 3,08 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) pada Mei 2026.
Baca tanpa iklan