TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pelemahan rupiah dan kenaikan biaya impor mulai berdampak pada perusahaan ritel.
Nilai tukar rupiah pada Selasa (2/6/2026) dibuka melemah ke level Rp 17.885 per dolar Amerika Serikat (AS) atau turun sekitar 80,5 poin dibandingkan perdagangan sebelumnya.
Kondisi tersebut, mulai memunculkan perbedaan strategi harga di antara emiten ritel rumah tangga, terutama PT Daya Intiguna Yasa Tbk (MDIY) dan PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk (ACES).
Baca juga: Rupiah Tertekan Dolar AS, Pemerintah Perlu Ambil Langkah Redam Lonjakan Harga Barang
Di tengah tekanan biaya bahan baku, logistik, dan nilai tukar, ACES melalui jaringan AZKO memilih menaikkan harga jual rata-rata atau average selling price (ASP) untuk ribuan barang. Sementara itu, MDIY memilih mempertahankan harga melalui strategi everyday value.
Berdasarkan riset BRI Danareksa Sekuritas, manajemen ACES mulai menyesuaikan harga sekitar 10 persen untuk 5.000 stock keeping unit (SKU) sejak April 2026. Perseroan juga menjadwalkan penyesuaian harga untuk 5.000 SKU lainnya pada Mei 2026.
Langkah tersebut dilakukan untuk mengimbangi kenaikan biaya input dan menjaga stabilitas margin. Dalam riset yang sama, margin kotor ACES pada kuartal I-2026 tertekan 170 bps secara tahunan akibat kenaikan biaya pengiriman dari China, kenaikan harga bahan baku 5–10 persen, serta pelemahan rupiah terhadap yuan.
Di sisi lain, MDIY mengambil pendekatan berbeda dengan mempertahankan strategi harga tetap terjangkau. Perseroan mengandalkan skala bisnis, efisiensi rantai pasok, jaringan toko yang luas, serta daya tawar kepada pemasok untuk menahan tekanan biaya.
Analis Catherine Florencia dari MNC Sekuritas menilai perbedaan strategi tersebut menjadi menarik karena keduanya menyasar pasar ritel rumah tangga yang sensitif terhadap harga. Menurutnya, kenaikan harga dapat membantu menjaga margin dalam jangka pendek, tetapi tetap memiliki risiko terhadap volume penjualan.
“Dalam kondisi daya beli yang masih selektif, kenaikan harga bisa menggerus volume, terutama untuk produk mass market. Konsumen bisa menunda pembelian, menurunkan nilai belanja, atau beralih ke ritel yang menawarkan harga lebih kompetitif,” ujar Catherine.
Ia menilai strategi ACES cukup rasional dari sisi perlindungan margin. Namun, tantangannya adalah menjaga agar kenaikan harga tidak mengganggu frekuensi kunjungan dan basket size pelanggan.
Sebaliknya, strategi MDIY yang menahan harga dinilai berpotensi lebih defensif terhadap volume penjualan. Dengan tetap menjaga persepsi harga terjangkau, MDIY berpeluang mempertahankan trafik toko dan bahkan mendorong kenaikan volume jika konsumen semakin mencari produk value-for-money.
“Ritel yang mampu menahan harga biasanya punya peluang menjaga volume lebih baik. Bahkan dalam kondisi tekanan daya beli, konsumen bisa berpindah ke pemain yang dianggap lebih terjangkau, terutama jika produknya memang dibutuhkan secara reguler oleh masyarakat.” kata Catherine.
Menurutnya, strategi MDIY juga berpotensi memperkuat positioning perseroan sebagai ritel kebutuhan rumah tangga yang relevan dengan konsumen harian. Hal ini menjadi penting karena konsumen saat ini tidak hanya mencari kelengkapan produk, tetapi juga kepastian harga.
Dari sisi kinerja, MDIY masih mencatat pertumbuhan kuat pada kuartal I-2026. Pendapatan perseroan mencapai Rp2,4 triliun atau tumbuh 31,0 persen secara tahunan, sementara laba bersih naik 35,5 persen menjadi Rp 306,5 miliar.
Baca tanpa iklan