News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Gejolak Rupiah

Rupiah Tertekan Dolar AS, Pemerintah Perlu Ambil Langkah Redam Lonjakan Harga Barang

Penulis: Fransiskus Adhiyuda Prasetia
Editor: Dewi Agustina
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

TEKANAN RUPIAH - Direktur Eksekutif Haidar Alwi Institute yang juga Founder Kontra Narasi, Sandri Rumanama meminta pemerintah mengambil langkah untuk meredam tekanan terhadap mata uang nasional.

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali menjadi sorotan.

Dimana, nilai tukar rupiah dibuka melemah ke level Rp 17.880 per dolar AS pada perdagangan hari ini.

Baca juga: IHSG Dibayangi Merosotnya Nilai Tukar Rupiah, Investor Asing Masih Angkat Kaki

Di tengah kurs rupiah yang disebut mendekati level Rp18.000 per dolar AS, Direktur Eksekutif Haidar Alwi Institute Sandri Rumanama, meminta pemerintah mengambil langkah untuk meredam tekanan terhadap mata uang nasional.

Menurut Sandri, salah satu faktor yang membebani perekonomian Indonesia saat ini adalah tingginya biaya impor minyak dan gas bumi (migas).

Kondisi tersebut dinilai ikut menekan cadangan devisa negara karena kebutuhan dolar AS untuk membayar impor energi terus meningkat.

 

 

"Kurs 1 USD ke rupiah sudah mendekati Rp 18 ribu. Ini harus ada kebijakan berani dari pemerintah," kata Sandri, Selasa (2/6/2026).

Sandri menilai pemerintah perlu mempertimbangkan kebijakan menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) guna mengurangi beban impor migas dan menekan subsidi energi yang selama ini menyedot anggaran negara.

"Biaya impor migas kita sangat membengkak, akhirnya menekan cadangan devisa. Jadi kalau bisa naikkan saja harga BBM agar bisa menekan biaya impor kita dan mengurangi beban subsidi BBM yang menguras APBN. Presiden harus berani mengambil sikap, jangan sampai kita seperti Somalia dan Zimbabwe," ujar Sandri yang juga Founder Kontra Narasi ini.

Selain persoalan impor migas, Sandri juga menyoroti kekhawatiran pasar terhadap kondisi fiskal pemerintah.

Menurut dia, defisit anggaran yang mendekati batas 3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) menjadi perhatian pelaku pasar, terutama ketika penerimaan pajak belum optimal.

Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan tekanan terhadap nilai tukar rupiah apabila tidak diimbangi dengan langkah-langkah penguatan penerimaan negara dan pengelolaan belanja yang lebih efektif.

Di sisi lain, permintaan terhadap valuta asing (valas) juga mengalami peningkatan.

Halaman
12
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini