Kenaikan kebutuhan dolar AS terjadi karena sejumlah faktor musiman, mulai dari pembayaran utang luar negeri hingga repatriasi dividen perusahaan.
“Permintaan valas meningkat secara musiman untuk berbagai keperluan, seperti pembayaran utang luar negeri, repatriasi dividen perusahaan baik swasta maupun badan usaha milik negara, dan kebutuhan operasional impor bahan baku serta pengeluaran program-program ambisius pemerintah seperti Koperasi Desa Merah Putih dan Makan Bergizi Gratis yang benar-benar menguras anggaran negara,” kata Sandri.
Ia menilai berbagai kebutuhan tersebut membuat permintaan dolar AS di pasar meningkat, sementara tekanan terhadap rupiah masih berlangsung.
Pelemahan rupiah memiliki dampak luas terhadap perekonomian nasional.
Selain meningkatkan biaya impor, kondisi tersebut juga berpotensi memicu kenaikan harga barang dan jasa, terutama produk yang bergantung pada bahan baku dari luar negeri.
Karena itu, pemerintah dinilai perlu mengambil langkah strategis untuk menjaga stabilitas nilai tukar sekaligus memastikan kondisi fiskal tetap sehat di tengah berbagai program prioritas yang sedang dijalankan.
Baca tanpa iklan