TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pemerintah dan industri kompak menyatakan adanya dampak kurang baik dari melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terhadap produksi susu sapi murni di dalam negeri.
Nilai tukar rupiah pada Selasa (2/6/2026) dibuka melemah ke level Rp 17.885 per dolar AS atau turun sekitar 80,5 poin dibandingkan perdagangan sebelumnya.
Direktur Hilirisasi Hasil Peternakan Kementerian Pertanian (Kementan) Makmun menyampaikan, melemahnya nilai rupiah saat ini salah satunya berdampak pada upaya pemerintah dalam menambah populasi sapi perah dengan cara impor.
Baca juga: Indonesia Masih Haus Susu Impor, 75 Persen Kebutuhan Nasional Didatangkan dari Luar Negeri
"Karena kita semangatnya ingin menambah populasi, memang sekarang ada kenaikan harga sapi perah, umumnya kan kita ngambilnya dari Australia ya, umumnya teman-teman ini," kata Makmun saat jumpa pers Hari Susu Nusantara, di Kantor Kemenko Pangan, Selasa (2/6/2026).
Kata Makmun, untuk kebutuhan impor pembelian sapi parah indukan terlebih dalam posisi mengandung memang sudah meningkat harganya.
Meski kenaikan harga yang dialami tidak signifikan, Makmun mengaku, hal itu sudah menjadi salah satu dampak yang perlu disikapi dalam upaya pemerintah menambah pasokan susu sapi murni dengan memperbanyak populasi sapi perahnya.
"Kemarin, tahun lalu rata-rata teman-teman itu mengimpor harga sekitarn45 juta per ekornya, sapi perah bunting. Nah, tahun ini (naik tapi) tidak juga sampai ke 50 (juta), ada di bawah juga. ada kenaikan tapi tidak terlalu jauh juga sih dari kondisi yang ada," kata dia.
Keluhan senada juga disampaikan oleh sektor industri dalam hal ini, General Manager R&D Health and Wellness Divisi Dairy PT Indofood CBP Sukses Makmur, Catur Lesthiaman.
Catur menyatakan, untuk produksi susu sapi di tengah melemahnya nilai tukar rupiah membuat pihaknya melakukan beragam efisiensi.
Sebab, hampir 80 persen produksi susu sapi yang beredar di dalam negeri saat ini bahan bakunya berasal dari impor.
Upaya itu dilakukan, agar biaya atau cost untuk penjualan susu tetap stabil meski nilai impor bahan baku susu mengalami peningkatan.
"Kurang lebih sih memang karena 80?ri kebutuhan susu ini masih impor dan harganya juga terpaut dengan dolar, sedikit banyak memang ada pengaruh terhadap apa namanya ini, bahan baku untuk Indomilk, dalam hal ini yang saya bisa wakili," kata dia.
Tak hanya melakukan efisiensi, Catur juga menyebut, pihaknya turut memaksimalkan pemanfaatan susu sapi dari peternakan lokal.
Catur menyebut, upaya itu dilakukan agar para konsumen dari produk susu Indomilk tidak terdampak langsung dari fluktuatifnya nilai tukar rupiah belakangan ini.
Baca tanpa iklan