Ada empat faktor yang mempengaruhinya.
Pertama, Jika biasanya Trump sangat percaya diri kini tampak ‘keder’ oleh hujatan di kelompok konservatif yang menjadi basis massanya.
Dengan menghapus goresan AI itu, dia menentang ucapannya sendiri yang begitu provokatif “never apologize, never explain.” Publik menilai sosok tak tergoyahkan ini mulai goyang.
Kedua, dalam waktu yang berhimpitan, komentarnya yang pedas terhadap Paus Leo XIV bisa saja membuat mereka yang menganggapnya ‘relijius’ jadi ragu-ragu, bahkan mempertegas posisinya sebagai politikus yang ahli memakai berbagi modus agar ambisinya mulus.
Apalagi, secara terang-terangan, dia menolak berdamai dengan tokoh berpengaruh ini. Ucapan Trump malah nyolot, “If I wasn’t in the White House, Leo wouldn’t be in the Vatican.”
Kali ini Trump jelas memilih lawan yang salah. Tidak seperti ‘Crooked Hillary’ atau ‘Sleepy Joe’ lawan Trump kali ini adalah otoritas keagamaan yang dihormati oleh jutaan pemilih Trump sendiri.
Bagaimana dia bisa menjadi ‘Defender of Faith’ sekaligus menyebut pemimpin tertinggi gereja Katolik ‘terlalu liberal’ dan ‘lemah dalam menangani kejahatan.’ Brand dissonance ini membuat pengikut setianya pun sulit untuk mencernanya.
Ketiga, jika di awal bulan—tepatnya 1 April—kita mengenal sebagai April Mop atau April’s Fools Day, Trump juga salah langkah karena terlanjur salah kaprah karena menghapus gambar dirinya dari unggahan Social Truth.
Bukankah platform itu milik Trump Media & Technology Group (TMTG)? Bagaimana Kebenaran Sosial bisa mengunggah sesuatu yang akhirnya ditarik kembali karena dianggap tidak benar?
Bukankah penghapusan gambar itu bisa diartikan dia telah melakukan kesalahan? Ironi bukan? “It's ironic—the name of the site itself. Say no more,” ujar Paus Leo XIV.
Keempat, ini yang paling parah, seliberal-liberalnya Amerika, mereka sangat menghormati Yesus. Dengan menjadikan Yesus gimik marketingnya, publik AS dan masyarakat Kristen dunia, jadi gemas dan geram luar biasa.
Pembelaannya bahwa rekayasa AI tentang dirinya itu bukan untuk melecehkan Yesus melainkan menyamakan dirinya dengan ‘dokter’ atau ‘petugas palang merah’ tentu saja diabaikan oleh umat yang terlanjur marah.
Alih-alih menjadi ‘dokter’ yang mengobati ‘dunia yang sedang sakit’, Trump malah mencitrakan dirinya sebagai ‘agresor’ atau ‘predator’ dengan lambang-lambang negara adi daya, khususnya elang dan pesawat tempur.
Alih-alih usahaya untuk dianggap sebagai Captain America yang bisa ‘Make America Great Again’ (MAGA) sekaligus dokter penuh kuasa mukjizat kesembuhan yang ‘Make People Better’ ternyata justru membuat banyak orang—termasuk pengikutnya—menjadi ‘bitter’.
Sebagai intelektual, bisa jadi dia percaya ‘rhetoric and the visual language of the thaumaturgic touch’ bisa menyembuhkan orang. Bukankan raja pada zaman dulu juga dianggap sebagai tabib ajaib?
Baca tanpa iklan